Kamis, 4 Juni 2026

Sarapan Gudeg di Jogja? Cobalah Bu Tjitro 1925, Resep Legendaris yang Tetap Hangat dan Lezat Hampir 1 Abad

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Rabu, 8 Oktober 2025 | 05:30 WIB
Menu khas gudeg Bu Tjitro yang menggugah selera. (Jogjaprov.go.id)
Menu khas gudeg Bu Tjitro yang menggugah selera. (Jogjaprov.go.id)

SketsaNusantara.id - Bagi siapa pun yang berkunjung ke Yogyakarta, menikmati sarapan gudeg seakan menjadi agenda wajib.

Kota ini memang dikenal dengan kuliner manis nan gurih itu, dan hampir di setiap sudutnya ada warung yang menyajikan gudeg khas Jogja dengan cara masing-masing.

Namun, jika ingin merasakan racikan gudeg legendaris yang sudah bertahan hampir satu abad, nama Gudeg Bu Tjitro 1925 layak berada di daftar teratas.

Baca Juga: 5 Tempat Makan Legendaris di Jember yang Masih Eksis Puluhan Tahun, dari Gudeg 1968 hingga Soto Ayam 1958

Restoran ini menjadi salah satu sentra gudeg paling dikenal di Yogyakarta.

Banyak warga maupun wisatawan menjadikannya rujukan utama saat mencari tempat sarapan khas Jogja yang tak hanya lezat tapi juga bersejarah.

Sajian gudeg di sini menyatukan cita rasa klasik dengan kualitas penyajian yang konsisten dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Pernah Coba Gucel? Kuliner Legendaris Perpaduan Unik Gudeg dan Pecel di Jember Jadi Menu Favorit yang Menggugah Selera, Bule Aja Doyan!

Dilansir dari Jogjaprov.go.id, satu porsi gudeg di Gudeg Bu Tjitro 1925 disajikan lengkap dengan nasi putih pulen, gudeg kering yang manis gurih, daun pepaya yang tidak pahit, serta sambal krecek tempe yang pedasnya pas.

Kuah opor disiram merata di atasnya, membuat setiap suapan terasa lebih kaya rasa dan harum. Cita rasa ini menjadi alasan mengapa banyak pelanggan lama terus kembali, bahkan merekomendasikannya kepada keluarga dan tamu dari luar kota.

Selain menyajikan gudeg untuk dinikmati di tempat, Gudeg Bu Tjitro juga dikenal karena inovasinya dalam kemasan oleh-oleh.

Ada dua pilihan populer, gudeg kendil yang bisa tahan hingga dua hari dan gudeg kaleng yang awet selama satu hari. Kemasan ini memudahkan wisatawan membawa pulang rasa Jogja ke kota asal mereka tanpa kehilangan keaslian cita rasa.

Warung ini berdiri sejak tahun 1925 dan terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Resep turun-temurun dari pendirinya, Bu Tjitro, tetap menjadi dasar utama dalam setiap sajian. Meski demikian, pengelola restoran juga menambahkan inovasi menu untuk menjangkau selera modern tanpa mengurangi keaslian gudeg khas Jogja.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: jogjaprov.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X