Kamis, 4 Juni 2026

Ini Makna Filosofis Hanacaraka, Aksara Jawa yang Berisi Tentang Hakikat Hidup Manusia dan Hubungannya dengan Sang Pencipta

Photo Author
Arif Rohman Mu'tasim, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 20 September 2025 | 07:00 WIB
Hanacaraka atau Honocoroko, aksara Jawa dengan nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan.  (desakepek-wonosari.gunungkidulkab.go.id)
Hanacaraka atau Honocoroko, aksara Jawa dengan nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan. (desakepek-wonosari.gunungkidulkab.go.id)

Makna filosofis dari baris ini adalah manusia sebagai ciptaan Tuhan diciptakan sebagai tanda kebesaran Tuhan yang memiliki fungsi untuk menjaga kelestarian hidup.

Dalam bahasa Jawa makna ini disebut dengan Hamemayu Hayuning Bawono yang terdiri atas dua aspek yakni Hamemayu Hayuning Jagad kang Piniji dan Hamemayu Hayuning Jagad Royo.

Hamemayu Hayuning Bawono berarti menjaga kelestarian hidup dari segi manusia itu sendiri (Hamemayu Hayuning Jagad kang Piniji) dan kelestarian alam (Hamemayu Hayuning Jagad Royo).

Do To So Wo Lo

Baris kedua dalam Aksara Jawa ini bermakna “ora biso suwolo kabeh wus ginaris kodrat yang berarti “tidak bisa diingkari bahwa semua sudah menjadi kodrat Tuhan”.

Makna filosofis dari baris kedua ini adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah digariskan oleh Tuhan, manusia hanya bisa menerimanya.

Masyarakat Jawa memiliki prinsip nerimo ing pandum yang berarti menerima apapun yang diberikan oleh Tuhan.

Namun makna filosofis dari baris ini tidak berarti mendorong manusia untuk pasif, sebaliknya manusia tetap harus berusaha sebaik mungkin.

Setelah usaha telah dilakukan manusia didorong untuk dapat menerima apapun hasilnya dengan hati yang ikhlas.

Po Dho Jo Yo Nyo

Baris ketiga dalam Aksara Jawa ini bermakna “kanti tetimbangan kang podo sak jodo anane” yang berarti “Tuhan menciptakan sesuatu di dunia dengan pertimbangan dan berpasangan”.

Arti dari makna filosofis ini dicontohkan dengan adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, atau hidup dan mati serta contoh pasangan-pasangan lainnya.

Kondisi ini mendorong agar manusia senantiasa siap dengan segala situasi yang dihadapinya.

Seperti aktivitas apa yang harus dilakukan saat siang, begitu juga saat malam, atau harus siap saat kesuksesan mengalami kemunduran sehingga manusia senantiasa berjiwa tegar dalam segala situasi.

Baris ketiga ini juga dapat diartikan sebagai sebuah keseimbangan dalam hidup.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X