Kamis, 4 Juni 2026

Ini Makna Filosofis Hanacaraka, Aksara Jawa yang Berisi Tentang Hakikat Hidup Manusia dan Hubungannya dengan Sang Pencipta

Photo Author
Arif Rohman Mu'tasim, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 20 September 2025 | 07:00 WIB
Hanacaraka atau Honocoroko, aksara Jawa dengan nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan.  (desakepek-wonosari.gunungkidulkab.go.id)
Hanacaraka atau Honocoroko, aksara Jawa dengan nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan. (desakepek-wonosari.gunungkidulkab.go.id)

 

SketsaNusantara.id - Aksara Jawa adalah salah satu jenis aksara tradisional yang dimiliki Indonesia.

Asal-usul aksara Jawa berkaitan dengan legenda Aji Saka yang mengutus dua abdinya untuk menjaga dan mengambil sebuah pusaka.

Keduanya bernama Dora dan Sembada yang mati secara bersamaan karena masing-masing menjaga kesetiaannya kepada Aji Saka.

Baca Juga: Pesta Kembang Api dan Penampilan Tari Kolosal Bakal Bikin Penutupan MTQ XXXI Jawa Timur di Jember Dipastikan Semarak

Aji Saka kemudian mengabadikan keduanya ke dalam sebuah aksara Hanacaraka atau Honocoroko yang hingga kini dikenal sebagai aksara Jawa.

Honocoroko merupakan aksara perkembangan dari aksara Pallawa (dinasti yang berkuasa di wilayah Asia Selatan pada abad ke-4 - 9 Masehi) sejak abad ke-5 Masehi.

Dikutip SketsaNusantara.id dari indonesia.go.id, saat ini terdapat 12 aksara tradisional yang menjadi kekayaan kesusastraan dan budaya di Indonesia.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Bantah Terima Gaji dan Tunjangan Bernilai Fantastis hingga 2,8 M Tiap Bulan, Transparansi Gubernur Jawa Barat Tuai Pujian Warganet

Di antaranya adalah aksara Jawa, Bali, Sunda Kuno, Bugis atau Lontara, Rejang, Lampung, Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, Mandailing, dan Kerinci (Rencong atau Incung).

Seperti aksara tradisional lainnya, Aksara Jawa memiliki sejarah dan makna filosofis yang menjadi ciri khas budaya masyarakat Jawa.

Dikutip SketsaNusantara.id dari ubaya.ac.id, berikut makna filosofis dari setiap baris pada Aksara Jawa.

Ho No Co Ro Ko

Baris pertama dalam aksara Jawa ini memiliki makna “ono utusaning pangeran” yang berarti “adanya utusan Tuhan”.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X