Dirk van Hogendrop merogoh kocek 14.000 ringgit untuk membangun rumah kebun yang berada di tepi Kalimas.
Menariknya, pada awal pembangunan, Gedung Grahadi memang menghadap ke Kalimas.
Namun pada masa pemerintahan Herman Williem Daendles, rumah Dirk van Hogendrop ini direnovasi total.
Arsitekturnya diubah menjadi gaya Indis Empire Style dengan ciri-ciri denah berbentuk simetris.
Di tengah bangunan, terdapat ruang utama yang terdiri dari kamar tidur utam yang dengan pemandangan teras depan dan teras belakang.
Sejak direnovasi oleh Daendles, Gedung Grahadi difungsikan sebagai rumah dinas residen Surabaya atau Residentswoning te Soerabaia.
Selanjutnya pada tahun 1928, bangunan ini digunakan sebagai Rumah Dinas Gubernur Jawa Timur.
Selain rumah dinas Gubernur Jatim, gedung ini juga kerap digunakan untuk menerima tamu atau menggelar resepsi serta pertemuan-pertemuan.
Bahkan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, bangunan sayap kanan gedung utama Grahadi, digukana sebagai Ruang Presiden.
Nilai historis pada gedung ini membuat pemerintah akhirnya menetapkan Gedung Grahadi sebagai cagar budaya peringat provinsi pada tahun 2023 lalu.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
5 Taman Wisata Gratis Dekat Bandara Juanda, Surabaya, Liburan Seru Natal dan Tahun Baru
Berusia Lebih dari Satu Abad! Barbershop Tertua di Indonesia ini Ada di Surabaya, Dulu Langganan Pribumi hingga Bangsa Kolonial Belanda!
Dijepit dan Dibakar! Kuliner Khas Sumenep Sudah Merajalela di Surabaya, Bukan Pentol Sembarangan, Kuliner Ini Wajib Dicoba Kalau Kangen Pulau Madura
Kampung di Surabaya Ini Punya Sumur Bersejarah! Simpan 'Harta Karun' Peninggalan Zaman Majapahit
Mengapa Hari Jadi Kota Surabaya Diperingati 31 Mei? Intip Sejarah Kota Pahlawan, Tempat Bersejarah Kemenangan Raden Wijaya atas Pasukan Mongol