Pasukan Mongol, yang datang dari laut, digambarkan sebagai sura (berani), sedangkan pasukan Raden Wijaya dari Majapahit yang berada di daratan digambarkan sebagai baya (bahaya).
Salah satu versi sejarah lainnya menyebutkan bahwa Surabaya berasal dari cerita adu kesaktian antara Adipati Jayengrono yang menguasai ilmu buaya di darat, dan Sawunggaling yang menguasai ilmu sura di tepi Kali Mas.
Konon, setelah mengalahkan pasukan Mongol, Raden Wijaya mendirikan keraton di daerah Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono menjadi pemimpin daerah tersebut.
Jayengrono yang menguasai ilmu buaya dan semakin kuat dan mandiri lama-kelamaan menjadi ancaman bagi kerajaan Majapahit. Untuk itu, diutuslah Sawunggaling yang dikenal menguasai ilmu sura.
Pertarungan selama tujuh hari tujuh malam antara Jayengrono dan Sawunggaling terjadi di pinggir Kali Mas dan berakhir tragis dengan kematian keduanya karena kehabisan tenaga.
Baca Juga: Kampung di Surabaya Ini Punya Sumur Bersejarah! Simpan 'Harta Karun' Peninggalan Zaman Majapahit
Kedua kisah ini menjadi simbol kekuatan dan keberanian yang menjadi dasar penentuan tanggal 31 Mei sebagai Hari Jadi Kota Surabaya.
Kemenangan Raden Wijaya atas pasukan Mongol menjadi simbol keberanian dalam menghadapi bahaya yang diabadikan dalam patung Sura (hiu) dan Baya (buaya) yang menjadi lambang resmi Kota Surabaya.
Sebelumnya, Hari Jadi Kota Surabaya dirayakan setiap 1 April merujuk pada berdirinya Gemeente Soerabaia, yakni pemerintahan kota pada masa kolonial Belanda yang dibentuk pada 1 April 1906.
Namun, tanggal ini dianggap kurang mencerminkan jati diri lokal dan semangat perjuangan rakyat Surabaya. Banyak warga menolak penetapan tanggal tersebut yang ikut mendorong sejarawan dan budayawan melakukan kajian historis lebih dalam.
Berdasarkan hasil kajian historis, DPRD Kota Surabaya akhirnya mengesahkan Surat Keputusan No. 02/DPRD/Kep/75 tanggal 6 Maret 1975 yang menetapkan 31 Mei 1293 sebagai Hari Jadi Kota Surabaya.
Keputusan ini diperkuat oleh Surat Keputusan Wali Kota No. 64/WK/75 tanggal 18 Maret 1975, menggantikan peringatan 1 April dengan 31 Mei untuk menghormati peristiwa bersejarah Raden Wijaya yang menjadi cikal bakal lahirnya Kota Surabaya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Peninggalan Sunan Ampel Ini Punya Nilai Historis Tinggi, Intip Keindahan Masjid Jami' Peneleh Surabaya yang Sarat Makna Islami
Mengulik Kisah Berdirinya Masjid Rahmat Warisan Sunan Ampel, Surau Tertua Cikal Bakal Penyebaran Islam di Surabaya
Mitos Munculnya Rujak Cingur, Hidangan Melegenda dari Surabaya, Ternyata Berasal dari Tempat yang Tak Disangka
Mengenal Sunan Bungkul, Wali Besar yang Berpengaruh Menyebarkan Islam di Surabaya, Pernah Jadi Petinggi di Era Majapahit?
Proyek Mangkrak Hindia Belanda di Surabaya Ini Eksis Sejak Abad ke-18, Sering Ada Kecelakaan karena Penampakan Makhluk Astral?
Penemuan Tulang Manusia dalam Sumur Tua Surabaya, Bukti Peninggalan Kerajaan Majapahit, Masih Eksis hingga Kini