SketsaNusantara.id- Warga Pulau Jawa terutama Solo pasti sudah tidak asing lagi dengan model suguhan kuliner berupa angkringan.
Saat ini, angkringan dipoles begitu modern. Acapkali diserbu oleh pencinta kuliner, terutama pada malam hari.
Namun siapa sangka, bahwa angkringan memiliki sejarah tersendiri sehingga bisa bertahan sampai sekarang bahkan bersaing dengan kuliner lainnya.
Mengutip dari TikTok @rekomendasiadia, sebelum ada angkringan seperti menggunakan gerobak dengan desain modern. Sebelumnya ada angkringan pikulan.
Jangan salah, sampai saat ini juga masih ditemukan model angkringan pikulan di Solo, meski sudah tidak banyak lagi.
Salah satunya adalah angkringan pikulan yang ditemukan di depan Rumah Sakit Brayat Minulya, Solo.
Baca Juga: Momen Santai Prabowo dan Jokowi di Solo: Makan Malam Angkringan Berdua
Menurut sejarah yang dijelaskan melalui video tersebut, kata angkringan bahkan sudah ada sejak zaman dahulu.
Sebutan itu juga sudah ada dalam surat kabar Djawi Hiswara yang muncul pada 28 Januari 1918.
Kemudian sebutan angkringan pikulan juga muncul dalam sebuah buku karya Poerwadarminta yang diterbitkan pada tahun 1939.
Pada zaman tahun 90an ke bawah, angkringan biasanya dijajakan dengan cara dipukul sesuai dengan namanya, angkringan pikulan.
Dahulu mereka masih menjajakan kuliner khas nusantara seperti soto, bakmi hingga beraneka minuman.
Artikel Terkait
Desa di Klaten Menyimpan Sejarah Cikal Bakal Angkringan di Indonesia, Ada Museum di Rumah Warga
Bakso Favorit Keluarga Cendana! Kisah Inspiratif Pedagang Kecil yang Ditemukan Soeharto dan Jadi Legenda Kuliner Jakarta hingga Kini
Terenak! 4 Kuliner Khas Hidangan Lebaran 2025 Seantero Pulau Jawa Ini Bikin Perut Kroncongan, Daging Sapi Dibikin Lapis?
Mudik ke Solo Wajib Mampir Sini! Jelajahi Toko Jajanan Tertua Berdiri Sejak Tahun 1888, Cicipi Kue Legendaris Favorit Raja Pakubuwono X
Berdiri Sejak 1881, Roti Legend Kota Solo Kuliner Kesukaan Para Raja, Tak Pernah PHK Karyawan
Viral Bahlil Lahadalia Naik Jet Pribadi ke Solo Demi Kunjungi Jokowi: Rakyat Menderita Pejabat Tetap Foya-Foya