Kamis, 4 Juni 2026

Sejarah dan Makna Cublak-Cublak Suweng: Lagu Permainan Anak yang Jadi Media Dakwah Sunan Giri untuk Menyebarkan Pesan Anti korupsi di Tanah Jawa

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Jumat, 4 April 2025 | 06:00 WIB
Potret lagu Cublak Cublak Suweng karya Sunan Giri yang masih dinyanyikan dalam permainan anak di Jawa Tengah (Budaya-indonesia.org)
Potret lagu Cublak Cublak Suweng karya Sunan Giri yang masih dinyanyikan dalam permainan anak di Jawa Tengah (Budaya-indonesia.org)

Permainan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, kerjasama, dan pentingnya hati nurani yang bersih.

Baca Juga: Amalan Ampuh Syekh Ali Jaber! Melawan Penyakit pada Anak-Anak di Tengah Kasus Diabetes dan Gagal Ginjal

Tembang dolanan anak-anak karya Sunan Giri ini ternyata mengandung makna luhur yang mengajarkan untuk tidak serakah dalam mencari kebahagiaan hakiki.

Lagu ini juga memiliki makna filosofi mendalam sebagai peringatan bagi manusia untuk tidak melakukan kecurangan seperti melakukan praktik korupsi hanya karena ingin memperkaya diri.

Hal ini terlihat dalam lirik lagunya. Kalimat pertama dalam liriknya yaitu "Cublak-cublak Suweng", menggambarkan tempat harta berharga (suweng), yang melambangkan harta sejati atau kebahagiaan hakiki.

Kemudian, "Suwenge teng gelenter", menggambarkqn pesan soal kebahagiaan sejati yang sebenarnya berserakan di sekitar manusia, namun sering tidak didisadari.

Di sisi lain, lirik "Mambu ketundhung gudel" menyindir manusia yang diibaratkan seperti anak kerbau (gudel) dalam mencari harta dengan nafsu dan keserakahan sehingga melakukan hal  nekat seperti korupsi.

"Pak empo lera-lere", menandakan orang-orang yang serakah menjadi bingung dan gelisah karena dikuasai oleh hawa nafsu mereka sendiri.

"Sapa ngguyu ndhelikake" menggambarkan manusia bijaksana dan mampu mengendalikan diri akan menemukan kebahagiaan sejati.

Lirik terakhir yaitu, "Sir-sir pong dele kopong", menekankan pentingnya hati nurani yang bersih dan bebas dari kecintaan berlebihan terhadap harta duniawi.

Baca Juga: 3 Peninggalan Sunan Giri dalam Menyebarkan Islam di Nusantara, Telaga Pegat Tempat Bersejarah Penuh Secercah Keajaiban

Dengan demikian, lagu ini memberi peringatan bagi manusia yang cenderung mencari-cari harta benda untuk mencapai kepuasan nafsunya.

Peringatan bagi manusia yang hanya menuruti egonya cenderung menjadi serakah, padahal kebahagiaan sejati sudah ada di sekitarnya. Namun, mereka tetap berusaha mengumpulkan harta tanpa henti hingga akhirnya justru merasa bingung dengan hidupnya sendiri.

Lagu ini memberi pesan bagi manusia agar tetap berusaha dan mensyukuri apa yang dipunyai sebagai jalan menemukan keberkahan dan kebahagiaan hidup.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: budaya-indonesia.org

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X