SketsaNusantara.id - Pertunjukan wayang kulit biasanya diselenggarakan semalam suntuk atau berakhir menjelang waktu Subuh.
Namun, bukan berarti tidak ada yang memainkan pentas wayang kulit saat siang hari.
Faktanya, justru pertunjukan wayang kulit lebih ramai dan seru jika ditonton saat malam hari.
Di beberapa wilayah Indonesia, pentas wayang kulit biasanya menjadi puncak dari acara seperti sedekah bumi alias doa bersama setelah musim panen padi.
Ada yang menyelenggarakan pentas wayang kulit pada siang hari, lalu disambung dengan lakon berbeda di malam harinya.
Tentunya, ada perbedaan dari faktor dalang dan tingkat keramaian penonton.
Lumrahnya, pertunjukan wayang kulit di siang hari cenderung sepi karena masih banyak warga yang bekerja atau sekolah.
Sedangkan di malam hari, kebanyakan warga sudah selesai bekerja atau beraktivitas dan bisa fokus untuk menikmati hiburan wayang kulit.
Perlu dipahami pula bahwa wayang kulit pada dasarnya merupakan salah satu media dakwah yang digunakan Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga.
Sehingga, ada penjelasan yang sangat masuk akal kenapa pentas wayang kulit sebaiknya dimainkan di malam hari, tepatnya setelah waktu sholat Isya.
Kyai Achmad Chalwani menjelaskan peran Sunan Kalijaga dalam menentukan waktu pementasan wayang kulit.
Artikel Terkait
Arti Gambar Kerbau dan Harimau dalam Gunungan Wayang Kulit, Ada Kaitannya dengan Mimpi Nabi Muhammad Sebelum Perang Uhud
Kenapa Ada Banaspati dan Monyet di Pohon Tauhid Gunungan Wayang Kulit? Inilah Bukti Kecanggihan Dakwah Wali Songo di Nusantara
Dakwah Wali Songo Tergantung pada 4 Tokoh Wayang Kulit ini, Gambaran Para Nabi dan Rasul yang Sering Diremehkan
Arti Sebenarnya Wayang Kulit oleh Sunan Kalijaga serta Perbedaan Ashabul Yamin dan Ashabul Simal di Samping Dalang
Wayang Kulit Bukan Syirik! Ada Dalil Kuat dari Al Quran yang Jadi Pedoman Sunan Kalijaga