SketsaNusantara.id - Apa yang paling dikenang dari sebuah kisah sejarah kelam yang legendaris pada ingatan setiap warganya?
Pada tahun 1965, Indonesia mengalami salah satu periode paling kelam dalam sejarahnya. Di tengah pergolakan politik dan sosial yang memanas, sebuah tragedi kemanusiaan terjadi di Kalisat, Jember, Jawa Timur.
Sebuah grup ludruk terkenal, Ludruk Pak Sabar, secara misterius menghilang tanpa jejak di tengah kekacauan tersebut.
Baca Juga: Sketsa Nusantara: Melestarikan Pluralisme dan Keragaman dalam Bingkai Kebangsaan
Ludruk, seni pertunjukan tradisional yang lahir dari tanah Jawa Timur, menjadi jantung hiburan rakyat di masa lalu. Dengan nuansa humor, kritik sosial, dan pesan moral, ludruk menjadi medium komunikasi yang penting di masyarakat.
Di saat radio dan televisi belum menjadi konsumsi umum, ludruk hadir di pasar-pasar, desa-desa, dan kampung-kampung sebagai hiburan utama, serta wadah penyampaian pesan moral dan sosial.
Ludruk Pak Sabar, yang didirikan oleh H. Sabarudin atau lebih dikenal dengan Pak Sabar, adalah salah satu grup ludruk yang sangat terkenal di wilayah Kalisat, Jember.
Didukung oleh pemain-pemain handal seperti Markepo, Dasuni, dan Dalija, grup ini mampu menyedot perhatian masyarakat setempat dengan kualitas pertunjukan yang luar biasa.
Mereka sering kali diundang oleh para juragan tembakau untuk menghibur di tengah masa panen, membawa tawa dan hiburan ke hati masyarakat Jember.
Namun, di tengah kesuksesan tersebut, tragedi menimpa Ludruk Pak Sabar pada tahun 1965. Di tengah meningkatnya ketegangan politik pasca-peristiwa G30S, tuduhan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) menyebabkan banyak orang yang dianggap terlibat atau bersimpati dengan PKI ditangkap atau hilang secara paksa.
Baca Juga: Bahasa Gen Z: Penuh Inovasi, Keberagaman, dan Kesadaran Sosial yang Tinggi
Kala itu, kesenian ludruk juga tidak lepas dari stigma politik yang mencengkeram kehidupan sosial masyarakat.
"Dalam situasi penuh ketidakpastian, Ludruk Pak Sabar tiba-tiba menghilang. Tidak ada informasi pasti mengenai nasib mereka, namun banyak yang menduga bahwa mereka menjadi korban dari operasi pembersihan yang dilakukan oleh aparat militer dan laskar-laskar berbasis agama yang menyisir daerah Kalisat," jelas RZ Hakim, sejarawan Jember saat dikonfirmasi SketsaNusantara.id pada 30 September 2024.