sketsa

Mengenang Hilangnya Ludruk Pak Sabar Kalisat, Misteri di Tengah Gejolak Peristiwa Kelam pada Tahun 1965

Senin, 30 September 2024 | 14:30 WIB
Ilustrasi toneel atau ludruk di Jember (Dok. SketsaNusantara.id )

 

SketsaNusantara.id - Apa yang paling dikenang dari sebuah kisah sejarah kelam yang legendaris pada ingatan setiap warganya?

Pada tahun 1965, Indonesia mengalami salah satu periode paling kelam dalam sejarahnya. Di tengah pergolakan politik dan sosial yang memanas, sebuah tragedi kemanusiaan terjadi di Kalisat, Jember, Jawa Timur.

Sebuah grup ludruk terkenal, Ludruk Pak Sabar, secara misterius menghilang tanpa jejak di tengah kekacauan tersebut.

Baca Juga: Sketsa Nusantara: Melestarikan Pluralisme dan Keragaman dalam Bingkai Kebangsaan

Ludruk, seni pertunjukan tradisional yang lahir dari tanah Jawa Timur, menjadi jantung hiburan rakyat di masa lalu. Dengan nuansa humor, kritik sosial, dan pesan moral, ludruk menjadi medium komunikasi yang penting di masyarakat.

Di saat radio dan televisi belum menjadi konsumsi umum, ludruk hadir di pasar-pasar, desa-desa, dan kampung-kampung sebagai hiburan utama, serta wadah penyampaian pesan moral dan sosial.

Ludruk Pak Sabar, yang didirikan oleh H. Sabarudin atau lebih dikenal dengan Pak Sabar, adalah salah satu grup ludruk yang sangat terkenal di wilayah Kalisat, Jember.

Baca Juga: Warisan Sasahidan Syekh Siti Jenar: Manunggaling Kawulo Gusti, Perangkap Pseudo-Sufisme atau Kritik pada Watak Feodalisme?

Didukung oleh pemain-pemain handal seperti Markepo, Dasuni, dan Dalija, grup ini mampu menyedot perhatian masyarakat setempat dengan kualitas pertunjukan yang luar biasa.

Mereka sering kali diundang oleh para juragan tembakau untuk menghibur di tengah masa panen, membawa tawa dan hiburan ke hati masyarakat Jember.

Namun, di tengah kesuksesan tersebut, tragedi menimpa Ludruk Pak Sabar pada tahun 1965. Di tengah meningkatnya ketegangan politik pasca-peristiwa G30S, tuduhan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) menyebabkan banyak orang yang dianggap terlibat atau bersimpati dengan PKI ditangkap atau hilang secara paksa.

Baca Juga: Bahasa Gen Z: Penuh Inovasi, Keberagaman, dan Kesadaran Sosial yang Tinggi

Kala itu, kesenian ludruk juga tidak lepas dari stigma politik yang mencengkeram kehidupan sosial masyarakat.

"Dalam situasi penuh ketidakpastian, Ludruk Pak Sabar tiba-tiba menghilang. Tidak ada informasi pasti mengenai nasib mereka, namun banyak yang menduga bahwa mereka menjadi korban dari operasi pembersihan yang dilakukan oleh aparat militer dan laskar-laskar berbasis agama yang menyisir daerah Kalisat," jelas RZ Hakim, sejarawan Jember saat dikonfirmasi SketsaNusantara.id pada 30 September 2024. 

Halaman:

Tags

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB