*Kholisatul Hasanah (Ketua Kopri Jawa Timur)
SketsaNusantara.id - Selamat Hari Jadi Jawa Timur! Momentum ini bukan sekadar peringatan usia administratif sebuah provinsi. Ia adalah ruang batin kolektif, tempat kita menundukkan kepala, mengingat jejak para leluhur, sekaligus menatap masa depan dengan mata penuh harapan. Jawa Timur adalah tanah dengan sejarah panjang dan peradaban besar. Dari bumi ini, lahir gagasan kebangsaan, semangat perjuangan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi Indonesia.
Bila kita menengok jauh ke belakang, tanah ini pernah menjadi pusat peradaban besar Nusantara. Dari kejayaan Majapahit, lahir konsep Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi perekat bangsa hingga hari ini. Dari Blambangan hingga Madura, dari Tapal Kuda hingga Mataraman, setiap jengkal tanah Jawa Timur menyimpan kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan kebersamaan. Semangat itu tidak padam oleh zaman, ia menjelma menjadi karakter warganya: kerja keras, berani, terbuka, dan solidaritas tinggi. Darah itu masih mengalir di nadi masyarakat Jawa Timur hari ini. Darah perjuangan, darah kerja keras, dan darah pengabdian.
Ketika dunia bergerak cepat dalam arus disrupsi teknologi dan perubahan sosial, Jawa Timur kembali membuktikan ketangguhannya. Bukan hanya dalam angka pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi dalam kekuatan manusianya, manusia yang berpikir maju, beretika sosial, dan berjiwa gotong royong. Di tengah tantangan global, Jawa Timur tetap menjadi penopang stabilitas ekonomi nasional, sekaligus pusat pergerakan sosial yang dinamis.
Dan di titik inilah, kita patut mengucap syukur atas hadirnya sosok pemimpin yang membawa warna baru bagi kepemimpinan di Indonesia, Ibu Khofifah Indar Parawansa. Di bawah kepemimpinan beliau, Jawa Timur menapaki fase baru pembangunan yang berpihak pada manusia.
Kepemimpinan Ibu Khofifah adalah cermin dari nilai luhur perempuan Jawa Timur, tegas namun lembut, kuat namun penuh kasih, rasional namun berjiwa sosial. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar simbol representasi, melainkan bukti nyata bahwa perempuan mampu menjadi pengarah arah peradaban.
Ibu Khofifah Indar Parawansa menegaskan makna kepemimpinan sejati, Beliau bukan sekadar pemimpin perempuan; beliau adalah figur yang mengembalikan makna kepemimpinan sebagai pengabdian. Dengan tangan dingin, hati hangat, dan visi tajam, beliau menata Jawa Timur menjadi provinsi yang tidak hanya produktif, tetapi juga manusiawi.
Kepemimpinan Ibu Khofifah adalah kombinasi dari ketegasan dan empati, dua kualitas yang seringkali sulit berjalan beriringan. Beliau menunjukkan bahwa kelembutan bukan kelemahan, dan ketegasan bukan kekerasan. Dalam dirinya, Jawa Timur menemukan teladan kepemimpinan yang berimbang: rasional sekaligus berjiwa sosial.
Kepemimpinan perempuan semacam ini sangat selaras dengan narasi besar KOPRI Jawa Timur: “Katalisator Ketokohan Perempuan Jawa Timur.”
KOPRI Jawa timur melihat bahwa kemajuan suatu daerah tidak akan berarti tanpa partisipasi aktif perempuan di dalamnya. Perempuan bukan lagi pelengkap pembangunan, melainkan penggerak utama transformasi sosial. Dalam ruang pendidikan, ekonomi, hingga politik, perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan.
Narasi besar KOPRI Jawa Timur, “Katalisator Ketokohan Perempuan Jawa Timur”, menemukan pijakannya di era ini. KOPRI melihat perempuan bukan sekadar simbol partisipasi, tetapi sumber energi perubahan. Di tangan-tangan perempuan Jawa Timur, lahir inovasi sosial yang inspiratif.