Potret Hedonis
Hari Lebaran tidak jarang disambut dengan menyalakan petasan di beberapa daerah. Bahkan jauh hari sejak bulan suci Ramadhan baru datang. Tentu dengan ukuran dan jenis yang bervariasi.
Kebiasaan ini menimbulkan banyak sisi negatif. Terlepas dari hukum positif yang melarang peredaran petasan itu sendiri. Sampah bekas letusan petasan biasanya berserakan di jalanan. Tidak hanya di halaman rumah warga. Tentu ini akan mengganggu pemandangan saat Lebaran sudah tiba.
Suara petasan yang sangat keras, bahkan sering menggelegar, tentu menjadi kekagetan tersendiri bagi warga sekitar. Belum jika ada di antara warga yang mengidap penyakit jantung. Pada kondisi normal saja, suara petasan yang sangat keras tentu mengganggu waktu istirahat orang yang sedang berpuasa.
Banyaknya biaya untuk sekedar membunyikan petasan menjadi persoalan ekonomi tersendiri. Tidak adanya manfaat dari tradisi ini mengindikasikan adanya kebiasaan hedonis para pelaku. Sekedar mengikuti keinginan permainan tanpa mengindahkan lingkungan sosial sekitar.
Solusinya masyarakat harus cerdas dalam mengalokasikan pengeluaran. Kesadaran terhadap bahaya ledakan petasan harus terus disosialisasikan. Tidak hanya menunggu aparat penegak hukum bertindak. Terlebih sudah banyak korban berjatuhan dari petasan. Tidak hanya luka berat, bahkan hingga meninggal dunia.
Dua sisi berbeda memang selalu mengiringi kedatangan Lebaran. Islam mengajarkan untuk saling memaafkan di momentum hari raya Idul Fitri. Di satu sisi positif, para leluhur Nusantara nan bijak menyambutnya dengan tradisi ketupat yang penuh filosofis kehidupan. Tapi di satu sisi, masyarakat yang mengaku modern kadang menyambutnya sekedar bermain petasan yang membuat keresahan.***
*Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU Jawa Timur
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!