Mukani*
SketsaNusantara.id – Hari raya Idul Fitri sudah di depan mata. Tinggal menunggu beberapa hari lagi. Arus mudik dari kota-kota besar sudah mengalami puncaknya. Seolah berlomba-lomba menuju kampung halaman.
Penuh Filosofis
Setiap Lebaran datang, ada tradisi yang melekat di Nusantara. Terutama umat Islam yang tinggal di Pulau Jawa. Seolah menjadi satu kesatuan “tidak bisa dipisahkan” dengan hari Lebaran.
Keberadaan ketupat dalam setiap jamuan hidangan menjadikan Lebaran makin bermakna. Makanan yang terbuat dari beras ini sudah menerobos lorong-lorong kota metropolis. Tidak hanya menjadi santapan masyarakat di pelosok pedesaan.
Isi ketupat berupa nasi dari beras mengindikasikan adanya harapan sebuah kemakmuran. Ini sudah dimulai dalam konteks tradisi ketupat yang dipopulerkan sejak zaman Wali Songo. Beras adalah makanan pokok yang tidak semua orang bisa menikmatinya kala itu.
Pemberian ketupat beserta lauk kepada relasi, terutama tetangga, mempresentasikan ajaran Islam tidak kaku. Akulturasi budaya antara nilai Islam dalam bersedekah berbentuk ketupat tidak dilarang. Tergantung dari niat orang yang memberikan ketupat.
Ketupat dan lauk yang diberikan kepada orang lain juga mengajarkan nilai penting. Kaum muslim harus mampu berbagi dengan apa yang disukai kepada yang lain. Terutama bagi masyarakat sekitar yang belum terbiasa menikmati “masakan mewah” ketika itu bernama ketupat.
Kemasan ketupat dibungkus dengan daun kelapa yang masih muda (Jawa: janur). Itupun harus dianyam dengan motif dan alur tersendiri. Tidak boleh sembarang membentuk bungkus ketupat.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam mencapai tujuan untuk membuat ketupat, ada kanal-kanal dan aturan yang harus diikuti. Tidak bisa secara instant tanpa menghiraukan usaha dan etika.
Penyajian ketupat sendiri biasanya diikat dalam jumlah tertentu. Biasanya dimulai dari lima ketupat diikat jadi satu. Atau kadang satu ikat terdiri dari sepuluh bungkus ketupat.
Jumlah isi ikatan ketupat ini memberikan motivasi kepada kaum muslim. Angka lima identik dengan rukun Islam yang harus dilaksanakan. Sedangkan angka sepuluh menunjukkan adanya kesempurnaan dalam hidup. Tentu setelah kelima rukun itu dilaksanakan dengan baik.
Bentuk ketupat yang berupa empat persegi panjang mengajarkan empat tahap kehidupan manusia. Mulai alam rahim, alam dunia, alam kubur hingga alam keabadian di akhirat kelak.
Itu semua diajarkan para leluhur Nusantara tanpa retorika yang berbusa-busa. Tapi sudah dilaksanakan berkesinambungan dan dirasakan secara nyata. Dalam banyak hal, leluhur Nusantara memiliki banyak nilai filosofis dalam suatu tradisi Islami. Sehingga tradisi-tradisi itu di era milenium seperti sekarang tetap terpelihara.