Pertempuran Nglaban sendiri terjadi di pinggir desa yang berbatasan dengan area persawahan. Lahan kosong itu sekarang didirikan Masjid Baiturrohman di timur jalan desa. Sedangkan di sisi barat jalan berdiri MI dan MTs Ar-Rohman.
Sun'an juga mengakui, berdasar cerita orang tuanya, banyak tentara yang bermarkas di desanya dikirim ke garis depan pertempuran. Lokasinya di daerah Keboan, perbatasan Jombang-Mojokerto di utara sungai Brantas.
Khudriyah (2025), warga asli Nglaban lainnya, menegaskan hal yang sama. Berdasar cerita dari ibu kandungnya, setelah tahun 1947, kampungnya sering menjadi medan pertempuran. Bahkan salah satu tetangganya gugur tepat di depan rumahnya. Dia adalah Tentara Nglaban yang terkenal pemberani melawan Belanda.
Pemilihan markas Kompi Yusuf Hasyim di Nglaban memiliki historis panjang. Banyak anggota kompi ini berasal dari Nglaban. Ini karena banyak pemuda Nglaban yang menimba ilmu (nyantri) ke Pesantren Tebuireng.
Salah satunya adalah Ahmad Arif. Menurut Ali Ahmad (2025), anak Ahmad Arif, KH Yusuf Hasyim sering berkunjung ke mushola milik Kiai Jazuli. Lokasinya di Nglaban bagian timur, persisnya di selatan jalan desa. Dulu di sebelahnya berdiri sebuah pondok pesantren. Musholanya sampai sekarang masih berdiri.
Pertempuran melawan pasukan Van der Plass meletus hingga ke timur desa. Tepatnya di sekitar mushola Kiai Jazuli itu. Ini karena banyak anak buah KH Yusuf Hasyim yang beristirahat di mushola saat itu.
Penuh Historis
Nglaban juga memiliki historis lainnya saat Batalyon 42/Diponegoro kocar-kacir dalam Pertempuran Pacet di Mojokerto. Bulan Februari 1949, Mayor Mansur Solichy dengan beberapa pasukannya pun mundur berjalan kaki hingga Mojogeneng Mojokerto.
Rombongan akhirnya sampai ke Gambiran Mojoagung Jombang. Mereka melanjutkan perjalanan ke Nglaban. Tujuannya menemui KH Yusuf Hasyim untuk konsolidasi Batalyon 42/Diponegoro yang sudah kocar-kacir.
KH Yusuf Hasyim akhirnya bersedia membantu. Meski dia berada di bawah Batalyon 39/Condromowo. Semangat persatuan sesama eksponen Laskar Hizbullah mendorongnya. Meski harus konsolidasi ke beberapa kabupaten dilakukan. Dalam beberapa bulan saja batalyon pimpinan Mayor Mansur Solichy itu berangkat kembali bertempur di garis depan.
Dusun Nglaban menjadi saksi hidup. Bahwa kiai dan santri ikut bertempur mempertaruhkan nyawa di garis depan mempertahankan kemerdekaan. Tidak sekedar mengaji di pesantren.***
*Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!