Hal itu melambangkan persiapan memasuki bulan Ramadhan, di mana umat Islam diwajibkan menahan diri dari makan, minum, serta berbagai perbuatan yang membatalkan puasa.
Tradisi ini juga menjadi momentum refleksi diri dan mempererat tali silaturahmi antarwarga. Dengan berbagi makanan, terutama apem, masyarakat diajak untuk saling memaafkan dan memperkuat hubungan sosial menjelang Ramadhan.
Salah satu elemen penting dalam Megengan adalah kue apem. Makanan ini bukan sekadar jajanan khas, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam. Kata ‘apem’ berasal dari bahasa Arab ‘afwan’ atau ‘affan’, yang berarti maaf atau pengampunan.
Oleh karena itu, membagikan apem di Megengan menjadi simbol harapan agar mendapatkan ampunan dari Allah menjelang Ramadhan.
Selain itu, apem juga mencerminkan ajaran kesederhanaan dan kebersamaan. Dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung beras, gula, dan santan, kue ini mengajarkan nilai berbagi tanpa kemewahan berlebihan.
Hingga kini, Megengan tetap lestari di berbagai daerah di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setiap menjelang Ramadhan, masyarakat mengadakan acara doa bersama, membagikan apem, dan berkumpul dengan keluarga serta tetangga.
Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga pengingat akan pentingnya kebersamaan dan persiapan spiritual sebelum memasuki bulan suci.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!