SketsaNusantara.id - Dalam pertunjukan wayang kulit, Gunungan atau Kayon merupakan bagian yang tak terpisahkan.
Biasanya, gunungan dihadirkan sebagai pembuka dan penutup (tancep kayon) dalam pertunjukan seni warisan dakwah Sunan Kalijaga tersebut.
Selain itu, Gunungan juga dihadirkan untuk menghadirkan efek dramatis saat peperangan atau adegan khusus lainnya.
Gunungan memiliki motif gunung atau pepohonan dengan ornamen flora dan fauna di permukaan.
Bahkan, Gunungan bukan hanya digunakan dalam pagelaran wayang kulit tetapi dipakai juga dalam sejumlah upacara adat atau ritual khusus.
Contohnya adalah penggunaan gunungan dalam upacara pernikahan. Maknanya adalah simbol restu serta harapan atas kesejahteraan dan keharmonisan pasangan pengantin.
Sebagai bagian dari media dakwah di masa Wali Songo, Gunungan tentunya punya makna yang sangat mendalam terkait ajaran Islam.
Dilansir SketsaNusantara.id dari karya penelitian Otok Herum Marwoto berjudul NILAI NILAI ISLAM PADA WAYANG KULIT, MENJADIKAN PERAN PENTING DALAM PERKEMBANGAN SENI ISLAMI DI INDONESIA yang dimuat dalam CORAK Jurnal Seni Kriya Vol. 3 No.1, Mei-Oktober 2014, Gunungan atau Kayon punya makna simbolis.
Jika diperhatikan secara seksama, wujud Gunungan atau Kayon sebenarnya menyerupai kubah masjid.
Sedangkan, jika wujudnya dibalik akan menyerupai jantung manusia.
Apa artinya? Dalam kehidupan umat Islam, jantung hatinya harus senantiasa berada di dalam masjid.