Dikutip SketsaNusantara.id dari Buku Atlas Wali Songo yang ditulis oleh Agus Sunyoto cetakan tahun 2017, ulama atau kyai merupakan seseorang yang dijadikan panutan dan kiblat keteladanan dan sandaran rohani.
Baca Juga: Ulama Palestina Jadi Pelatih Tentara Majapahit, Pakai Baju Perang Pusaka Milik Sunan Kalijaga
Tak hanya semasa hidupnya saja, seseorang yang memiliki gelar ulama atau kyai setelah wafatpun dijadikan tempat memperoleh barokah.
Biasanya makam ulama atau kyai diziarahi untuk kegiata tabarukkan atau yang lebih dikenal dengan istilaha ngalap barokah.
Lalu, siapa yang bisa memperoleh gelar ulama atau kyai itu?
Sebutan ulama atau kyai tidak bisa diperoleh dengan sekolah formal atau akademik, melainkan ada jalur khusus.
Kyai atau ulama harus melalui jalur keilmuan khusus pada proses pewarisan dengan cara mengkaji kitab-kitab klasik kepada kyai atau ulama terdahulu.
Tingkat keulamaan seseorang bisa diketahui dari kekuatan adikodrati atau yang familiar dengan sebutan karomah.
Di nusantara sendiri, gelar ulama atau kyai berasal tradisi yang berkembang dan bersumber dari dukuh dan pesantern yang dulunya diasuh dan punya hubungan dengan tokoh khusus seperti Wali Songo.
Tak jarang pula jika kyai atau ulama memiliki nasab atau garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW.
Sehingga, menjadi seorang ulama atau kyai itu tidak mudah dan tidak serta-merta diberikan begitu saja kepada orang yang ahli ilmu agama.
Baca Juga: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU Keluarkan Surat Edaran Kapan Hari Raya Idul Adha 2024
Berdasarkan stratifikasi masyarakat zaman kerajaan Islam terdahulu, ulama merupakan golongan ruhaniwan yang memiliki karomah atau maunah yang mendatangkan berkah.***