Bagaimana tidak, dalam berdagang para pelanggan boleh berhutang atau mencicil barang yang dibelinya.
Tak tanggung-tanggung, ia bahkan bisa menghibahkan barang dagangannya kepada kaum fakir miskin.
Hal ini membuat Abu Hurairah, salah satu kepercayaan Nyai Ageng Pinatih kesal dengan aksi Sunan Giri.
Ditambah ada beberapa pelanggan yang akhirnya tidak mau membayar atau melunasi hutangnya.
Abu Hurairah pun pulang ke Nyai Ageng Pinatih dalam keadaan tangan kosong. Tidak ada satu pun keuntungan yang didapatnya dari sistem perdagangan Sunan Giri.
Namun saat itu Sunan Giri menyuruh Abu Hurairah mengisi karung dengan pasir untuk dibawa ke perjalanan.
Ajaibnya, karomah Sunan Giri pun bekerja. Bagaimana tidak, ketika Abu Hurairah sudah sampai untuk menghadap Nyai Ageng Pinatih.
Isi karung itu yang awalnya pasir, berubah menjadi damar dan rotan untuk mengganti kerugian dagangannya.
Baca Juga: Aneh Tapi Benar-benar Terbukti, Inilah 4 Karomah Gus Dur yang Dianggap Gila, Sebagai Real Wali?
Itulah karomah yang dimiliki oleh Sunan Giri. Selama hidupnya, ia pun menghabiskan waktu di Gresik.
Sampai ia wafat pada tahun Saka Candra Sengkala. Ia wafat di Desa Giri, Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.***