SketsaNusantara.id - Sebutan Wali Songo memiliki makna khusus yang dihubungkan dengan keberadaan tokoh-tokoh keramat di Jawa.
Wali Songo berperan penting dalam usaha penyebaran dan perkembangan Islam pada abad ke 15 dan 16 Masehi.
Kata Wali Songo merupakan kata majemuk yang berasal dari kata Wali yang dalam bahasa Arab berasal dari waliyullah yang artinya orang yang mencintai dan dicintai Allah.
Sedangkan kata Songo berasal dari bahasa Jawa yang artinya sembilan, jadi arti dari Wali Songo adalah sembilan orang yang mencintai dan dicintai Allah.
Wali Songo dipandang sebagai ketua kelompok yang sejumlah besar adalah mubaligh Islam yang bertugas mengadakan dakwah Islam di daerah-daerah yang belum memeluk Islam di Jawa.
Menurut pemahaman perkembangan masyarakat Jawa dikaitkan dengan sekelompok penyiar agama di Jawa yang hidup dalam kesucian sehingga memiliki kekuatan tinggi dan kesaktian luar biasa serta memiliki ilmu jaya kawijayan dan keramat.
Sementara itu menurut Profesor Doktor Simuh (1986) pandangan Simuh ini berkaitan erat dengan kosmologi orang Jawa yang beragama Hindu dan meyakini bahwa alam semesta ini diatur dan dilindungi oleh dewa-dewa penjaga mata angin.
Bertolak dari kosmologi Nawa Dewata, dapat diartikan bahwa sewaktu dakwah islam dilakukan secara sistematis oleh para penyebar Islam, terjadi proses pengubahan konsep Nawa Dewa sebagai Wali Songo
Konsep kosmologi Wali Songo memiliki kedudukan dewa-dewa penjaga mata angin itu digantikan oleh manusia-manusia yang dicintai Tuhan yang biasa disebut sebagai waliyullah atau Wali Songo.
Konsep Wali Songo dapat dikatakan sebagai suatu proses pengambilan konsep Nawa Dewata yang bersifat industri menjadi konsep sembilan Wali yang bersifat sufistik.
Konsep Wali Songo secara umum adalah penganut sufisme diyakini pengambilalihan dari konsep Nawa Dewata yang hinduistik menjadi Wali Songo yang sufistik.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto Inilah alasan keberadaan Wali Songo hingga 8 tugas dari Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai-nilai dan sosial budaya masyarakat.