Menurut Gus Baha, kemampuan mengendalikan situasi dan menahan gejolak massa itulah yang dapat dipandang sebagai bentuk karomah. Bukan dalam pengertian menunjukkan kesaktian atau kemampuan supranatural, melainkan kemampuan luar biasa dalam menjaga kemaslahatan umat dan bangsa.
"Peristiwa itu akan dikenang dunia karena berhasil mengelola konflik tanpa pertumpahan darah," kata Gus Baha dalam kajian yang sama.
Sikap Gus Dur juga mencerminkan salah satu ajaran penting dalam Islam, yakni mengutamakan perdamaian dan mencegah mudarat yang lebih besar. Dalam pandangan banyak kalangan Nahdlatul Ulama, keputusan Gus Dur untuk menerima pelengseran dengan lapang dada menjadi teladan kepemimpinan yang mengedepankan kebijaksanaan.
Hingga kini, lebih dari dua dekade setelah peristiwa tersebut, nama Gus Dur masih dikenang sebagai simbol pluralisme, demokrasi, dan perdamaian. Kisah tentang sikapnya saat meninggalkan kursi kepresidenan terus menjadi bahan refleksi mengenai arti kekuasaan dan pengabdian kepada bangsa.
Bagi Gus Baha, karomah terbesar Gus Dur bukan terletak pada hal-hal yang bersifat luar biasa secara fisik, melainkan kemampuannya menjaga Indonesia tetap utuh di tengah konflik politik yang berpotensi memecah belah bangsa. Warisan itulah yang hingga kini masih dikenang dan dihormati oleh banyak kalangan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!