Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, atas izin Allah SWT salah satu perampok bernama Ki Sambangdalan tiba-tiba berubah sehingga kepalanya menyerupai domba. Peristiwa tersebut membuat para perampok ketakutan dan memohon ampun.
Melihat penyesalan mereka, Sunan Bayat akhirnya membimbing Ki Sambangdalan untuk bertobat dan menjadi muridnya. Setelah menjalani tirakat dan memohon ampun kepada Allah SWT, kepala Ki Sambangdalan kembali seperti semula.
Sejak saat itu, Ki Sambangdalan dikenal sebagai pengikut setia Sunan Bayat dan mendapat julukan Syech Domba.
Dalam kegiatan dakwahnya, Sunan Bayat banyak mengajarkan nilai patembayatan atau pirukunan, yakni semangat kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat. Ia juga dikenal sebagai sosok yang sabar serta mampu berdakwah tanpa memandang latar belakang suku atau golongan.
Sunan Bayat wafat pada abad ke-16 dan dimakamkan di Bukit Jabalkat, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Hingga saat ini, makamnya masih menjadi salah satu tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah.
Meski sering disebut sebagai bagian dari Wali Songo oleh masyarakat setempat, sejumlah sumber sejarah menyebut Sunan Bayat sebenarnya merupakan ulama lokal yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Jawa Tengah.
Warisan dakwahnya tetap dikenang hingga kini, terutama dalam sejarah perkembangan Islam di kawasan Klaten dan Semarang.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!