Ibnu at-Tin, salah satu ulama pensyarah Shahih Bukhari, menegaskan pentingnya menahan amarah. Dalam penjelasannya, Rasulullah merangkum kebaikan dunia dan akhirat dalam larangan marah.
جمع صلى الله عليه وسلم في قوله “لا تغضب” خير الدنيا والآخرة، لأن الغضب يؤول إلى التقاطع، وربما آل إلى أن يؤذي المغضوبَ عليه فنيتقص ذلك من دينه
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa marah dapat memicu permusuhan dan merusak hubungan sosial. Dampaknya bisa mengurangi nilai keagamaan seseorang.
Dalam konteks puasa, marah tidak membatalkan ibadah secara hukum. Namun, emosi yang tak terkendali dapat mengurangi pahala puasa.
Puasa bertujuan membentuk pribadi yang lebih sabar, tenang, dan berakhlak mulia. Pengendalian diri menjadi inti dari latihan spiritual ini.
Oleh karena itu, menjaga emosi selama berpuasa sangat dianjurkan. Kesabaran menghadapi situasi sulit menjadi bagian dari penyempurnaan ibadah.
Dengan memahami dalil dan penjelasan ulama, umat Islam diharapkan mampu menjalani puasa secara lebih utuh. Bukan hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah.
Puasa yang dijalani dengan kesabaran dan ketenangan diharapkan melahirkan ketakwaan. Nilai inilah yang menjadi tujuan utama ibadah di bulan Ramadhan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!