Larangan riya’ juga ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad Saw. Rasulullah menyebut riya’ sebagai bentuk syirik yang paling dikhawatirkan menimpa umatnya.
“Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik paling kecil. Maka beliau ditanya tentang itu. Beliau berkata: Riya” (HR. Ahmad, Thabrani, Ibnu Abid Dunya dan Baihaqi).
Hadis tersebut menempatkan riya’ sebagai ancaman serius dalam praktik ibadah. Amal yang disertai riya’ kehilangan nilai di sisi Allah Swt.
Dalam konteks media sosial, unggahan ibadah berpotensi menimbulkan ekspektasi sosial. Respon berupa pujian, komentar, dan tanda suka dapat memengaruhi niat.
Jika niat utama berubah menjadi pencarian pengakuan, nilai ibadah menjadi berkurang. Kondisi ini menjadikan praktik ibadah kehilangan makna spiritualnya.
Dalam Islam, ibadah dianjurkan dilakukan secara tersembunyi. Prinsip ini menjaga kemurnian niat dan keikhlasan dalam beramal.
Kerahasiaan ibadah juga menjaga seseorang dari rasa bangga diri. Sikap tersebut membantu menghindari munculnya kesombongan spiritual.
Pada bulan Ramadhan, intensitas ibadah umat Islam meningkat signifikan. Momentum ini sering dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.
Di era digital, tantangan menjaga keikhlasan semakin kompleks. Akses mudah terhadap publikasi membuat batas antara ibadah dan konten semakin tipis.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap konsep riya’ menjadi penting. Kesadaran ini membantu menjaga kemurnian niat dalam beramal.
Setiap ibadah diharapkan tetap berorientasi kepada Allah Swt. Tujuan tersebut menjadi dasar utama dalam seluruh praktik keagamaan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!