religi

Larangan Tegas terhadap Perbuatan Syirik, Primbon Ajaran Sunan Bonang Dianggap Kunci Memahami Islam Wali Songo

Sabtu, 24 Januari 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi ajaran Sunan Bonang jadi kunci penyebaran Islam di Nusantara. (Pexels/Mohammed Alim)

SketsaNusantara.id - Para wali dikenal sebagai tokoh penting penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Mereka bukan hanya berdakwah, tetapi juga meletakkan fondasi kerajaan Islam. Kesamaan tujuan itu bahkan diikat oleh hubungan darah dan perkawinan.

Dalam sejarah Islam Nusantara, para ulama tersebut dikenal sebagai Wali Songo. Nama mereka kerap dilekatkan pada wilayah yang berkaitan langsung dengan perjalanan hidupnya. Pola ini menjadi ciri khas penamaan wali di Jawa.

Baca Juga: 3 Kesaktian Sunan Bonang Paling Legendaris hingga Bisa Membuat Banyak Orang Masuk Islam, Jadi Kisah Wali Songo yang Paling Diingat

Meski sama-sama berperan besar, tidak semua ajaran Wali Songo terdokumentasi jelas. Dari sembilan wali, Sunan Bonang disebut sebagai sosok dengan ajaran paling terang. Keaslian ajarannya dinilai masih dapat ditelusuri hingga kini.

Dalam penelitian yang ditulis Dewi Evi Anita berjudul Walisongo: Mengislamkan Tanah Jawa yang dimuat Wahana Akademika pada 2014, disebutkan bahwa Sunan Bonang dikenal melalui ajaran yang tertuang dalam primbon.

Isinya mencakup fiqih, tauhid, dan tasawuf. Seluruh ajaran tersebut tersusun rapi mengikuti aqidah Ahlussunnah wa al-Jamaah. Mazhab yang dianut adalah Syafi’i.

Baca Juga: Bukan Sunan Bonang apalagi Sunan Kalijaga, Tembang Tombo Ati Ternyata Punya Asal-usul yang Lebih Baheula

Primbon Sunan Bonang juga memuat larangan tegas terhadap perbuatan syirik. Di dalamnya, pembaca diarahkan untuk memahami keesaan Tuhan. Ajaran itu menekankan keseimbangan antara ibadah lahir dan batin.

Nasihat penutup dalam primbon menjadi salah satu bagian penting. Sunan Bonang menegaskan pedoman hidup bagi para pengikutnya. “hendaklah perjalanan lahir batinmu menurut jalan-jalan syariat, cinta, serta meneladani Rasulullah SAW.”

Ajaran tersebut memperlihatkan posisi Sunan Bonang dalam koridor Ahlussunnah wa al-Jamaah. Ia tidak memisahkan syariat dari laku spiritual. Keduanya berjalan berdampingan dalam praktik keislaman masyarakat Jawa.

Riwayat hidup Sunan Bonang juga mencerminkan perjalanan intelektualnya. Ia dikisahkan pernah berguru ke Pasai sebelum berniat menunaikan ibadah haji. Dalam versi lain, ia juga disebut belajar di Malaka.

Menurut Abdul Hadi WM dalam Sunan Bonang, Perintis dan Pendekar Sastra Suluk (1993), “Pada tahun 1503, setelah beberapa tahun jabatan imam masjid dipegangnya, dia bersilisih paham dengan Sultan Demak dan meletakkan jabatan, lalu pindah ke Lasem.”

Di Lasem, Sunan Bonang memilih Desa Bonang sebagai tempat menetap. Ia mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan keislaman. Selain itu, ia juga membangun pesujudan sebagai ruang tafakur.

Halaman:

Tags

Terkini