SketsaNusantara.id - Setiap datang bulan Oktober, masyarakat di berbagai daerah biasanya mulai menyiapkan langkah baru.
Pergantian musim, suasana kerja, hingga semangat menata hidup seolah menemukan momentum baru di bulan ini.
Bagi sebagian orang, Oktober terasa seperti pintu gerbang perubahan menuju akhir tahun.
Pandangan menarik tentang makna bulan Oktober datang dari salah satu ulama kharismatik Indonesia, KH Maimoen Zubair atau akrab disebut Mbah Moen.
Baca Juga: Mbah Moen Larang Ngutang! Baca 3 Amalan Ini agar Rezekimu Datang Tanpa Harus Berhutang Sepeser pun
Beliau menyinggung tentang waktu yang tepat untuk bekerja dan mencari kemajuan hidup.
Dikutip dari unggahan akun Instagram @juminah7345, dalam sebuah nasihatnya, Mbah Maimoen mengatakan, “Usaha segala apapun cari kemajuan mulailah bulan Oktober, Oktober itu syita rihlatasy-syaira'i was-saif mencari pencaharian bekerja di bulan-bulan syita, syita itu artinya matahari di selatan katulistiwa Oktober.”
Nasihat tersebut sarat makna. Bagi Mbah Maimoen, bulan Oktober bukan hanya penanda waktu secara kalender, tetapi juga simbol gerak dan usaha manusia.
Baca Juga: 3 Nasihat Mbah Moen kepada Orang Tua tentang Cara Menyiapkan Kesuksesan bagi Anaknya
Saat matahari berada di selatan garis khatulistiwa, terjadi perubahan musim yang mendorong manusia untuk beradaptasi dan bergerak.
Dalam konteks kehidupan modern, pesan itu dapat dimaknai sebagai ajakan untuk kembali bersemangat, bekerja lebih giat, dan tidak berhenti mencari kemajuan.
Bulan Oktober sering kali dianggap sebagai masa transisi antara musim kemarau dan musim hujan.
Dalam tradisi agraris, masa ini menjadi waktu penting untuk menanam, memulai aktivitas baru, dan menyiapkan diri menghadapi perubahan cuaca. Mbah Maimoen mengaitkannya dengan semangat bekerja dan mencari penghidupan.
Ketika alam bergerak, manusia pun sebaiknya ikut bergerak, bukan berdiam diri.