Padahal, menurut Buya, kebiasaan ini bukan hanya mengganggu kestabilan keuangan, tapi juga mengikis rasa syukur.
Ketika utang menjadi gaya hidup, maka nilai spiritual mulai memudar.
Di sinilah setan memainkan peran dengan membenarkan perilaku konsumtif lewat pembenaran-pembenaran batin.
3. “Utang Itu Wajar, Semua Orang Juga Punya”
Bisikan ini terdengar manis dan masuk akal, tapi itulah jebakan berikutnya. Normalisasi utang menjadi pembelaan diri orang-orang yang terjebak pada kebiasaan minjem. Buya Yahya dengan tegas menyebut:
“Utang itu adalah penyakit.”
Dengan kata lain, utang tidak bisa dinormalisasi begitu saja. Saat kita membiarkan diri larut dalam siklus ini, kita sedang membiarkan setan menjustifikasi kebiasaan buruk yang seharusnya diberantas.
4. “Tenang, Bisa Bohong Dikit Biar Gak Dikejar”
Ini bisikan paling berbahaya berikutnya. Ketika dikejar penagih utang, sebagian orang tergoda untuk berdusta demi keluar dari tekanan.
Dalam ceramahnya, Buya Yahya menyebut bahwa orang yang terbiasa ngutang bisa jatuh pada kebohongan demi mempertahankan citra atau menghindari konflik. Ujungnya, bisa saja masuk ke wilayah manipulasi, bahkan penipuan.
5. “Gagal Bayar? Pinjam Lagi Saja!”
Inilah bisikan setan paling licik, menyarankan solusi utang dengan utang baru. Siklus ini dikenal dalam dunia keuangan sebagai “debt trap” atau jebakan utang.
Dalam pandangan spiritual, ini adalah pola yang membuat seseorang makin jauh dari rasa cukup dan makin dekat ke arah kehancuran diri.