SketsaNusantara.id - Dalam dunia yang makin ramai dengan opini dan perdebatan, baik di warung kopi maupun kolom komentar media sosial, ada nasihat dari Imam Syafi’i yang patut jadi pedoman.
Nasihat ini dituturkan ulang oleh Fahruddin Faiz, pakar filsafat, yang menekankan pentingnya menghindari debat kusir, apalagi di zaman sekarang.
Pasalnya, di era digital seperti sekarang, setiap orang memiliki akses untuk menyampaikan pendapat.
Namun, hal itu juga berarti bahwa siapa pun termasuk yang tak memahami isu dengan mendalam, dapat membentuk opini publik.
Ketika opini-opini itu bertemu di ruang publik seperti Twitter, Facebook, atau TikTok, maka tak jarang terjadi perdebatan panas yang tidak berdasar pada logika atau data.
Imam Syafi’i telah lama menyampaikan bahwa ilmu adalah fondasi dari argumen. Tanpa ilmu, sebuah diskusi hanya akan menjadi ajang saling ngeyel.
Hal itu diperparah oleh algoritma media sosial yang justru seringkali memperkuat bias pengguna, bukan menantangnya untuk berpikir lebih dalam.
"Aku mampu berhujjah dengan 10 orang berilmu. Tetapi aku akan kalah pada 1 orang yang bodoh. Karena ia tidak tahu akan landasan ilmu," ujar Fahruddin Faiz menuturkan nasihat Imam Syafi'i, dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan akun TikTok @audio.filsafat.
Ketika Logika Tak Lagi Didengar
Fahruddin Faiz juga menjelaskan konteks dari kutipan tersebut. Menurutnya, Imam Syafi’i tidak sedang merendahkan orang bodoh, tetapi menyampaikan realitas bahwa berdiskusi dengan seseorang yang tak memiliki kerangka berpikir ilmiah akan menjadi percuma.
Baca Juga: Rahasia 3 Kebahagiaan dalam Islam: Buya Hamka dan Pemikirannya Menurut Fahruddin Faiz
"Kalau sekadar debat, diskusi, melawan 10 orang, aku bisa menang, aku bisa berhujja. Tapi melawan 1 orang bodoh, ya sudahlah. Aku nggak akan menang," lanjutnya.
Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa dalam diskusi yang sehat, adanya dasar pengetahuan dan kemampuan untuk menerima argumen berbeda adalah kunci.