Minggu, 19 Juli 2026

Rahasia 3 Kebahagiaan dalam Islam: Buya Hamka dan Pemikirannya Menurut Fahruddin Faiz

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 3 Februari 2025 | 05:00 WIB
Ada 3 rahasia bahagia yang ditafsirkan oleh Buya Hamka dan diungkap Fahruddin Faiz. (Tangkap layar Youtube Gita Wiryawan dan Muhammadiyah.or.id)
Ada 3 rahasia bahagia yang ditafsirkan oleh Buya Hamka dan diungkap Fahruddin Faiz. (Tangkap layar Youtube Gita Wiryawan dan Muhammadiyah.or.id)

SketsaNusantara.id - Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya? Lalu, bagaimana seorang muslim bisa mencapai kebahagiaan?

Dalam Islam, kebahagiaan dijabarkan oleh salah satu tokoh ulama Indonesia, yakni Buya Hamka.

Buya Hamka adalah ulama, sastrawan, dan cendekiawan Muslim Indonesia yang dikenal dengan pemikirannya tentang Islam dan moralitas. Ia juga penulis kitab tafsir Al-Azhar serta novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang melegenda.

Baca Juga: Kajian Fahruddin Faiz: Kebenaranmu Terbentuk karena Mencari-cari Kesalahan Orang Lain

Konsep kebahagiaan menurut Buya Hamka dikupas oleh Fahruddin Faiz dalam sebuah kajian yang diunggah di kanal Youtube Channel Ngaji Filsafat yang diunggah 26 Januari 2025.

Untuk mendefinisikan dan memahami konsep kebahagiaan tentunya harus melihatnya dari perspektif umum serta pandangan dari para pemikir Islam.

Menurut perspektif umum, bahagia adalah keadaan di mana seseorang mampu seimbang dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan ruhaninya, individu dan masyarakatnya, serta terpenuhi kebutuhan dunia dan amalan akhiratnya.

Baca Juga: Kajian Fahruddin Faiz: Cara Cerdas Menghindari Keinginan yang Justru Bikin Kamu Kehilangan Hal Berharga!

Sedangkan, menurut Ibnu Khaldun, bahagia itu adalah tunduk dan patuh mengikut garis-garis yang ditentukan Allah dan peri kemanusiaan.

"Ini kalau pakai bahasa buku itu, bahagia itu menjadi hamba yang baik dan manusia yang baik," ujar Fahruddin Faiz, dikutip SketsaNusantara.id dari video kanal Youtube Channel Ngaji Filsafat.

Lalu, menurut Abu Bakar ar-Razi, bahagia itu ibarat seorang tabib yang mampu menyembuhkan tetapi tidak memakai obat, tetapi dengan mengatur makanan saja.

Baca Juga: Ada Orang yang Tak Senang dengan Dirimu? Fahruddin Faiz Tegaskan Nasihat dari Imam Syafi'i

Menurut Imam Al Ghazali, bahagia sejati ialah ketika mencapai makrifatullah, yakni segala kenikmatan yang bersumber dari nafsu akan hilang dan berhenti ketika sampai batas kematian.

Namun kenikmatan makrifatullah bersumber dari hati, yang tidak akan hilang sampai mati, dan bahkan akan bertambah kenikmatan itu ketika sudah mati, karena telah hilang penganggunya, yaitu kekuatan iblis, hawa nafsu, yang tidak sampai ke alam setelah kematian.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Youtube Channel Ngaji Filsafat

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X