Menurut Buya Yahya seorang pemimpin yang baik harusnya senantiasa membawa perubahan yang baik untuk semua orang yang dipimpinnya.
Jika perubahan itu dibuat, maka pemimpin harusnya melibatkan semua orang yang ada atau di tempatnya untuk merumuskan perubahan (kebijakan).
"Kadang-kadang kesombongan kita sebagai seorang pemimpin diingatkan oleh rakyat untuk kebaikan," ujar Buya.
Buya Yahya menyoroti Gubernur Jawa Barat yang saat ini mungkin melakukan upaya-upaya perubahan agar menjadi lebih baik.
Baca Juga: Amalan Sunnah dengan Ganjarannya Setara Pahala Haji dan Umroh, Buya Yahya: Menurut Jumhur Ulama
"Itu bisa jadi termasuk bagian dari ijtihad beliau dari sisi ingin mensejahterakan rakyat, adapun sisi kesalahannya, memang bukan malaikat," ujar Buya Yahya.
Buya Yahya mengatakan jika memang seorang pemimpin inginkan perubahan yang baik, maka ia akan mudah untuk diingatkan rakyat jika ada hal yang keliru.
"Mungkin belum nyampai atau belum ada yang mengingatkan dan sebagainya, kalau ada kekurangan tentu tugas kita menyempurnakan," ujarnya.
Baca Juga: Amalan Jumat Pertama Bulan Dzulqa'dah, Lakukan Ini Jika Tidak Mau Hidup Miskin dan Penuh Hutang
Buya Yahya mengyebutkan jika kasus Vasektomi ini akan diterapkan, hendaknya para ahli kesehatan berikan pandangan.
Apabila baik maka ungkapkan baik, apabila merugikan maka cari solusi bagaimana baiknya agar sama-sama bisa menerima, bukan malah bermusuhan.
"Kalau Anda pakar kesehatan, dari sisi kesehatan, tinggal ngingatkan saja tanpa harus kita bodoh-bodohkan, karena urusannya bantuan sosial," kata Buya Yahya.
Pandangan Buya Yahya tujuan Gubernur Jawa Barat adalah mensejahterakan rakyat lewat bansos, namun tetap bisa dikoreksi bagaimana cara dan penyalurannya.