SketsaNusantara.id- Petasan atau mercon bukanlah sebuah hal asing dan dikenal sebagai bagian dari budaya atau kebiasaan masyarakat Indonesia.
Menurut data yang ada, sejarah keberadaan petasan tersebut bisa ditelusuri pada abad ke-9 Masehi dari kalangan masyarakat Tiongkok.
Meski waktunya belum diketahui secara persis, namun kebiasaan orang Tiongkok ini sudah menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Baca Juga: Hari ini Lebaran, Inilah Alasan Perbedaan Tanggal 1 Syawal di Arab Saudi dan Indonesia
Bubuk mesiu yang menjadi bahan agar membuat petasan bisa meledak adalah hampir sama dengan bahan untuk persenjataan api.
Hingga saat ini, bahan yang dipakai tersebut masih terus digunakan untuk membuat persenjataan api
Jadi, petasan memang sangat dekat dengan peradaban manusia yang dipakai sebagai hiburan sampai hal krusial seperti senjata.
Saat ini petasan digunakan untuk sarana hiburan dan memeriahkan berbagai acara, mulai dari pernikahan, malam tahun baru, hingga perayaan Lebaran.
Lantas, apakah menyalakan petasan di suatu momen termasuk Lebaran mendatangkan manfaat? Bagaimana agama memandang hal ini?
Sebagian besar para ulama memilih pendapat tidak memperbolehkan menyalakan atau membakar petasan, yang dikutip SketsaNusantara.id dari website bincangsyariah.com.
Mereka memandang bahwa hal tersebut sebagai bentuk pemborosan (tabdzir) dan memberikan efek yang bahaya (dharar), khususnya bagi pemakainya.