Terbukti dari Kurawa yang meskipun berjumlah 100, tetapi mengalami kekalahan dan kehancuran dalam Perang Baratayudha.
Pasalnya, mereka tidak pernah mendengarkan nasihat atau aspirasi dari Togog dan Mbilung yang berpihak ke Kurawa.
Berbeda dari punakawan di pihak Pandawa yang selalu didengarkan oleh para ksatrianya, sehingga selamat dan memenangkan perang.
"Nah sebenarnya punakawan ini, Semar, Gareng, Petruk, Bagong atau Bawor di Banyumas ini adalah gambaran dakwahnya para wali dan dakwahnya para mubaligh dalam Islam itu tergantung pada 4 karakter ini," ujar Ustadz Faizar, dikutip SketsaNusantara.id dari video kanal Youtube Muhammad Faizar, yang diunggah 15 November 2021.
Mereka bahkan merupakan gambaran dari para wali hingga nabi dan rasul yang dalam proses dakwahnya kerap dipandang sebelah mata oleh kebanyakan masyarakat.
"Bukan hanya gambaran dari para wali saja, tetapi gambaran dari semua nabi dan rasul yang sering diremehkan,"
Itulah kenapa para tokoh punakawan itu digambarkan sangat sederhana. Mereka adalah simbol dari kesederhanaan para dai atau ulama.
Tidak masalah jika mereka diremehkan karena punya keilmuan yang sangat tinggi.
Dalam wayang beber, cikal bakal wayang kulit purwa yang dikenal sekarang ini, tokoh-tokoh punakawan tidak dikenal.
"Punakawan baru muncul ketika era Islam di zaman Wali Songo, Kanjeng Sunan Kalijaga," pungkas Ustadz Faizar.***
Artikel Terkait
Benarkah Wayang Kulit Sengaja Dibuat Sebagai Warisan Wali Songo? Sempat Jadi Kontroversi, Begini Sejarah Wayang Kulit Sunan Kalijaga
Peninggalan Sunan Kalijaga: Wayang Kulit Sebagai Warisan Budaya Keilmuan Abadi dan Kisah Seorang Wali yang Pernah Jadi Perampok
Asal Usul 6 Julukan Sunan Kalijaga, Wali Songo yang Berdakwah Lewat Wayang, Ada Nama Panggung Saat Jadi Dalang!
Cara Unik Sunan Kalijaga Berdakwah dengan Wayang dari Majapahit hingga Pajajaran, Penonton Disuruh...
Revolusi Wayang: Ide Jenius Sunan Kalijaga hingga Islam Menyebar Luas di Jawa, Dulu Hiburan Kaum Bangsawan