"Ada 2 buto. Buto itu raksasa. Buto loro (dua), nyebuto ing loro (sebutlah 2 perkara)," kata Ustadz Faizar, dikutip SketsaNusantara.id dari video kanal Youtube Muhammad Faizar yang diunggah 15 November 2021.
Dua perkara yang dimaksud adalah 2 kalimat penting bagi umat Islam, yakni kalimat syahadat.
Penyimbolan tersebut menegaskan bahwa orang Jawa di masa lalu sangat mencintai seni dan filosofi, sehingga menjadi pintu gerbang efektif bagi dakwah Islam Wali Songo melalui wayang kulit.
Dari gambar Gunungan itu, kedua sosok buto menjaga bangunan yang megah. Bangunan tersebut menyimbolkan kelanggengan dan keabadian yang ada di surga.
Jelas sekali bahwa ilustrasi bangunan dan megah itu tak bisa menggambarkan keindahan surga, tetapi hanya sebagai simbol belaka.
Jadi, 2 buto penjaga gerbang rumah megah itu adalah kalimat syahadat, jalan tauhid, jalur keselamatan yang membebaskan manusia dari ancaman siksa neraka abadi.
Selain itu, penggambaran rupa buto alias raksasa yang menyeramkan menjadi pengingat kepada manusia agar selalu berwaspada atas segala ancaman kerusakan di dunia.***
Artikel Terkait
Benarkah Wayang Kulit Sengaja Dibuat Sebagai Warisan Wali Songo? Sempat Jadi Kontroversi, Begini Sejarah Wayang Kulit Sunan Kalijaga
Peninggalan Sunan Kalijaga: Wayang Kulit Sebagai Warisan Budaya Keilmuan Abadi dan Kisah Seorang Wali yang Pernah Jadi Perampok
Asal Usul 6 Julukan Sunan Kalijaga, Wali Songo yang Berdakwah Lewat Wayang, Ada Nama Panggung Saat Jadi Dalang!
Cara Unik Sunan Kalijaga Berdakwah dengan Wayang dari Majapahit hingga Pajajaran, Penonton Disuruh...
Revolusi Wayang: Ide Jenius Sunan Kalijaga hingga Islam Menyebar Luas di Jawa, Dulu Hiburan Kaum Bangsawan