Kamis, 4 Juni 2026

Punya Cara Unik dalam Berdakwah, Jenazah Sunan Bonang sampai Jadi Rebutan Para Muridnya Saat Meninggal

Photo Author
Gogot Cahyo Baskoro, Sketsa Nusantara
- Minggu, 30 Juni 2024 | 18:52 WIB
Ilustrasi Sunan Bonang yang meninggal dunia di Bawean, jenazahnya menjadi rebutan para muridnya.  (Freepik/kjpargeter)
Ilustrasi Sunan Bonang yang meninggal dunia di Bawean, jenazahnya menjadi rebutan para muridnya. (Freepik/kjpargeter)

SketsaNusantara.id- Kepiawaian Sunan Bonang dalam mensyiarkan Islam, benar-benar mendapat tempat di hati masyarakat Jawa.

Alih-alih menggunakan kekerasan, Sunan Bonang memilih cara yang unik dalam mengenalkan Islam kepada masyarakat Jawa.

Walhasil, jenazah Sunan Bonang sampai menjadi rebutan karena kecintaan para muridnya kepada sang guru.

Baca Juga: 4 Lokasi Petilasan Sunan Bonang, Kunjungi Masjid Agung Tuban Sebagai Destinasi Populer, Nuansa Megah Bikin Salfok!

Sunan Bonang yang memiliki nama asli Raden Makdum Ibrahim merupakan putra pertama Raden Rahmat (Sunan Ampel) dari istrinya bernama Dewi Candrawulan.

Sejumlah sumber menyebut bahwa Dewi Candrawulan yang merupakan putri Brawijaya, Raja Majapahit ini adalah orang yang sama dengan Nyi Ageng Manila.

Berteman akrab dengan Sunan Giri, Sunan Bonang mengawali belajar ilmu kepada ayahnya sendiri, Sunan Ampel.

Baca Juga: Siapa Nama Asli Sunan Bonang? Sering Dikira Julukan atas Alat Dakwahnya, Ternyata Gelar saat Jadi Imam Masjid Demak

Disebutkan pula, Sunan Bonang kemudian sempat berguru agama Islam kepada  Syeh Maulana Ishaq yang merupakan ayah Sunan Giri.

Selanjutnya, Sunan Bonang bersama Sunan Giri menunaikan ibadah haji sambil memperdalam pemahaman tentang Islam.

Sejumlah ulama dari berbagai negeri seberang, seperti dari Mekkah, Mesir hingga Baghdad disebut-sebut pernah menjadi guru mereka berdua.

Baca Juga: Dipakai Sunan Bonang saat Dakwah, Begini Bentuk hingga Asal Usul Penamaan Alat Musik Bonang yang Mirip Talempong

Selanjutnya, Sunan Bonang memilih Tuban untuk tempatnya berdakwah mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Jawa.

Yang menarik, cara memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jawa tidak melalui cara kekerasan dan tergolong unik.

Halaman:

Editor: Gogot Cahyo Baskoro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X