Hal ini ternyata bersumber dari pihak keluarga yang merupakan bangsawan di Tuban, Sunan Bonang banyak belajar tentang kesenian dan budaya Jawa yang membuatnya memahami dan menguasai teluk-peluk yang berkaitan dengan kesusastraan Jawa.
Sejumlah tembang yang diubah oleh Sunan Bonang diketahui sebagai tembang yang saat ini kita kenal sebagai tembang macapat.
Berbagai kesaktian dan kedidayaan menakjubkan yang ditunjukkan Sunan Bonang ternyata berhubungan dengan pengetahuannya yang luas dan mendalam tentang ilmu tasawuf.
Naskah Primbon Bonang yang diyakini BJO Schrike adalah tulisan Sunan Bonang, yang didalamnya memuat ajaran esoteris doktrin dan ajaran inti tasawuf yang mendalam.
Menurutnya Primbon Bonang itu jika dipelajari secara cermat akan didapati sejumlah kitab yang dijadikan rujukan sebagai ajaran atau wejangan.
Bisa dikatakan bahwa kesaktian dan kedigdayaan yang ditunjukkan Sunan Bonang bukanlah kesaktian dan kedigdayaan karena menguasai ilmu tertentu, tetapi adalah suatu Karomah dari kewaliannya.
Selain itu dalam Primbon Bonang Sunan Bonang diketahui menyusun kitab tentang pengetahuan tasawuf yang lebih dalam dan lebih rahasia yang dikenal sebagai Suluk Wujil.
Ajaran Suluk Wujil ini disampaikan Sunan Bonang yang dimuat dalam majalah Djawa tahun 1938 yang menyimpulkan bahwa ajaran tasawuf yang disampaikan Sunan Bonang dalam Suluk Wujil sifatnya rahasia.
Ungkapan Suluk Wujil yang bisa digolongkan rahasia adalah yang menyangkut bahasa hakikat Ketuhanan yang diungkapkan dalam Pupuh Berlanggam Dhandhanggulo sebagai berikut:
"Pon nyata ananing Hyang anisih/hening kasucianing pangeran/ ana ngaku kang wruh mengke/ laksanane tan atut/raga sastra tan den gugoni/anglalisi subrata/ kang sampun yekti wruh/ anangkreti punang raga/ peninggale den wong-wong rahina wengi/tan pasung anggulinga"
Islam yang datang ke Jawa adalah Islam sufi yang dengan mudah diterima serta diserap ke dalam sinkretisme Jawa hal ini menurut James Peacock dalam Purifying The Faith (1979).
Keberadaan Suluk Wujil, Primbon Bonang, Suluk Linglung, Suluk Sukarsa, Suluk Sujinah, Suluk Pustaka Rancang, Serat Dewa Ruci dan Serat Cabulek menunjukkan bahwa perkembangan Islam di Jawa khususnya di era Walisongo lebih didominasi oleh paham ke sufian.
Serat Dewa Ruci yang dikaitkan dengan tokoh Sunan Kalijaga pada dasarnya merupakan pengembangan naskah Nawa Ruci karya Hindu Budha yang ditulis pada masa Majapahit yang kemudian dimasuki paham-paham kesufian.
Artikel Terkait
Misteri Usia Sunan Kalijaga Hingga Dimakamkan di Demak, Wali Songo yang Hidup di 4 Masa Kerajaan Nusantara
Mau ke Makam Sunan Muria di Kudus? Nikmati Sensasi Naik Ojek Ala Valentino Rossi, Wisata Religi Plus Uji Nyali!
Peninggalan Sunan Kalijaga: Wayang Kulit Sebagai Warisan Budaya Keilmuan Abadi dan Kisah Seorang Wali yang Pernah Jadi Perampok
Terkenal Sebagai Kamus Lokal Berjalan Penguasa 99 Bahasa, Inilah 5 Karomah Strategi Dakwah ala Sunan Gunung Jati yang Melegenda di Nusantara
Kisah Wali Songo: Kesaktian Sunan Bonang Taklukkan Brahmana Sakyakirti dari India pada Agama Islam
Awal Mula Sunan Kalijaga Berjalan dari Demak ke Selatan Membuka Mataram Islam, Ada Ancaman Kehancuran Peradaban Nusantara