Kamis, 4 Juni 2026

Asyik Gaming Seharian saat Puasa, Batal atau Tidak? Ini Jawaban Lengkap Berdasarkan Fikih dan Hadis

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi main game seharian saat puasa Ramadhan. (Pexels/cottonbro studio)
Ilustrasi main game seharian saat puasa Ramadhan. (Pexels/cottonbro studio)

SketsaNusantara.id - Bulan Ramadhan kembali menjadi ujian ketahanan fisik dan mental bagi umat Islam. Di tengah cuaca terik dan rasa lapar, banyak orang mencari cara mengisi waktu agar puasa terasa ringan.

Fenomena ngabuburit dengan bermain game pun semakin marak. Tak sedikit yang menghabiskan waktu dari selepas Subuh hingga menjelang Maghrib hanya menatap layar ponsel.

Bagi sebagian anak muda, dunia virtual menjadi pelarian paling efektif. Sekali masuk permainan, waktu seolah melaju cepat hingga azan Maghrib terdengar.

Baca Juga: Rekomendasi Takjil Sehat untuk Bulan Ramadhan, Tetap Lezat untuk Berbuka Puasa

Namun, kebiasaan ini memunculkan pertanyaan penting di tengah masyarakat. Apakah bermain game berlebihan saat puasa diperbolehkan secara syariat.

Dikutip dari nu.or.id, secara fikih, bermain game tidak termasuk perbuatan yang membatalkan puasa. Batalnya puasa berkaitan dengan tindakan jelas, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri.

Termasuk pula perbuatan yang merusak esensi puasa, seperti murtad melalui keyakinan dan ucapan yang nyata. Dengan demikian, puasa tetap sah meski seseorang bermain game.

Baca Juga: Kata-Kata Mutiara Menyambut Malam Lailatul Qadar di Ramadhan 1447 Hijriah, Bagikan Sebelum 10 Hari Akhir Puasa

Meski tidak membatalkan, aktivitas tersebut tetap memiliki batasan. Hukum bermain game saat puasa pada dasarnya diperbolehkan selama tidak mengandung unsur haram.

Selain itu, permainan tidak boleh melalaikan kewajiban, seperti salat dan ibadah wajib lainnya. Durasi bermain juga dianjurkan dilakukan secara wajar.

Ramadhan menjadi momentum pengendalian diri dan penguatan spiritual. Karena itu, aktivitas harian dianjurkan lebih banyak diisi dengan ibadah dan amal kebaikan.

Ulama besar Sayyid Abdullah Al-Haddad mengingatkan agar umat Islam tidak terlalu sibuk dengan urusan dunia selama Ramadhan. Fokus utama diarahkan pada ibadah dan zikir.

وَمِنْ آدَابِهِ أَنْ لَا يُكْثِرَ التَّشَاغُلَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بَلْ يَتَفَرَّغُ عَنْهَا لِعِبَادَةِ اللَّهِ وَذِكْرِهِ مَا أَمْكَنَهُ وَلَا يَدْخُلُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا إِلَّا إِنْ كَانَ ضَرُورِيًّا فِي حَقِّهِ أَوْ حَقِّ مَنْ يُلْزِمُهُ الْقِيَامُ بِهِ مِنَ الْعِيَالِ وَنَحْوِهِ، وَذَٰلِكَ لِأَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ فِي الشُّهُورِ بِمَنْزِلَةِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فِي الْأَيَّامِ فَيَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَجْعَلَ يَوْمَ جُمُعَتِهِ وَشَهْرَهُ هَذَا لِآخِرَتِهِ خُصُوصًا

Artinya, “Di antara adab yang dianjurkan adalah tidak terlalu sibuk dengan urusan dunia di bulan Ramadhan, tetapi sebaiknya mengosongkan diri untuk beribadah kepada Allah dan banyak mengingat-Nya sebisa mungkin. Janganlah terlibat dalam pekerjaan duniawi kecuali jika itu benar-benar diperlukan bagi dirinya sendiri atau bagi orang-orang yang menjadi tanggungannya.”

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: nu.or.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X