SketsaNusantara.id - Setiap Ramadhan, masjid dan musala di berbagai daerah selalu dipenuhi jamaah.
Antusiasme ini menjadi tanda hidupnya ibadah malam di bulan suci. Sholat tarawih pun menjadi rutinitas yang dinanti banyak umat Islam.
Namun, di balik semarak tersebut, muncul fenomena yang kerap menuai perbincangan. Sebagian masjid melaksanakan sholat tarawih dengan tempo sangat cepat.
Gerakan sholat nyaris tanpa jeda ketenangan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang sah atau tidaknya sholat yang dilakukan tergesa-gesa.
Dalam ajaran Islam, kualitas sholat tidak diukur dari jumlah rakaat semata. Ketepatan gerakan dan ketenangan setiap posisi memegang peran penting. Konsep ini dikenal dengan istilah tumakninah, yang menjadi salah satu unsur penentu sahnya salat.
Rasulullah saw menekankan pentingnya tumakninah dalam sebuah hadis tentang seseorang yang keliru saat melaksanakan sholat.
Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Apabila engkau berdiri untuk sholat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’an. Lalu rukuklah hingga engkau tenang dalam rukuk. Kemudian bangkitlah hingga berdiri tegak. Lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud. Kemudian duduklah hingga engkau tenang dalam dudukmu. Lakukanlah demikian itu pada seluruh sholatmu.” (HR al-Bukhari).
Hadis tersebut menegaskan bahwa setiap gerakan sholat harus dilakukan dengan tenang. Setiap posisi wajib diberi jeda agar anggota tubuh kembali stabil. Prinsip ini berlaku umum, mencakup sholat fardu maupun sholat sunah.
Sholat tarawih termasuk bagian dari qiyām al-lail yang memiliki tata cara sama dengan sholat malam Rasulullah saw. Oleh sebab itu, prinsip tumakninah juga melekat pada pelaksanaan tarawih. Gerakan yang terlalu cepat berisiko menghilangkan ketenangan, bahkan dapat membuat salat tidak memenuhi syarat sah.
Dalam riwayat lain, Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada ‘Aisyah ra. tentang sholat Rasulullah saw di bulan Ramadhan. ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah saw. tidak pernah menambah di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat. Beliau sholat empat rakaat, jangan engkau tanyakan betapa bagus dan panjangnya, kemudian empat rakaat lagi, jangan engkau tanyakan betapa bagus dan panjangnya, kemudian beliau sholat tiga rakaat.” (HR al-Bukhari).
Riwayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw tidak hanya menjaga jumlah rakaat, tetapi juga kualitas sholat. Panjangnya bacaan dan tenangnya gerakan menjadi ciri utama ibadah malam beliau. Kekhusyukan dan ketenangan selalu menjadi prioritas.
Praktik tarawih yang dilakukan dengan sangat cepat berpotensi mengurangi kesempurnaan gerakan. Rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud dapat kehilangan unsur ketenangan. Kondisi ini membuat tumakninah sulit terwujud.
Artikel Terkait
Keutamaan Sholat Tarawih Malam 11 Sampai 20 Ramadhan: Peroleh Fadhilah Saat Kiamat hingga Allah Angkat Derajat di Surga
Jangan Asal Nyinyir! Tidak Semua Orang Bisa Tarawih di Masjid, Ini Nasihat Gus Baha
Siapa Haji Sulaiman? Bos Dermawan di Kabupaten Malang yang Viral karena Bagi-Bagi Uang pada Jamaah Shalat Tarawih
Keutamaan Sholat Tarawih di 10 Malam Terakhir Ramadhan, Ada Fadhilah Ini di Tiap Malam 21-30 Bulan Puasa
Makin Malas Tarawih di Akhir Ramadhan? Jangan Patah Semangat karena Ada Banyak Keutamaan Ibadah Khusus di Bulan Puasa ini