Kamis, 4 Juni 2026

Sering Bergosip saat Puasa? Ini Ancaman Al Quran tentang Ghibah yang Diibaratkan Memakan Daging Saudara Sendiri

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 15 Februari 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi bergosip saat puasa Ramadhan. (Pexels/Hatice Baran)
Ilustrasi bergosip saat puasa Ramadhan. (Pexels/Hatice Baran)

SketsaNusantara.id - Dalam kehidupan sehari-hari, lisan kerap menjadi sumber masalah.

Gosip, celaan, dan gunjingan mudah muncul dalam obrolan santai. Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa menggerus nilai ibadah puasa yang sedang dijalani.

Salah satu bentuk penyakit lisan yang paling sering terjadi adalah ghibah.

Baca Juga: Resmi Suporter Muslim Manchester United Gelar Buka Puasa di Old Trafford, Ibrahim Idris Pimpin Tilawah dan Adzan di Teater Impian

Ghibah berarti membicarakan keburukan orang lain. Meski disampaikan secara santai, perbuatan ini tetap memiliki konsekuensi serius dalam ajaran Islam.

Ghibah diposisikan sejajar dengan berkata keji, mengumpat, dan mencela. Semua perbuatan ini berpotensi membuat puasa kehilangan maknanya. Puasa tetap sah, tetapi pahala yang diharapkan bisa berkurang drastis.

Dikutip dari Kemenang.go.id, Al Quran memberikan gambaran keras tentang bahaya ghibah. Dalam surah Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT menegaskan larangan menggunjing sesama. Ayat tersebut menyamakan ghibah dengan perbuatan yang menjijikkan bagi akal sehat.

Baca Juga: 10 Twibbon Tema Ramadhan 1447 Hijriah, Sambutan Istimewa untuk Bulan Puasa, Cocok Bagikan ke Status Media Sosial

Dalam ayat itu disebutkan, "Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hujuraat: 12).

Perumpamaan tersebut menunjukkan betapa seriusnya larangan ghibah. Membicarakan keburukan orang lain diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal. Gambaran ini menegaskan keburukan perbuatan tersebut.

Dalam konteks puasa, ghibah menjadi ancaman nyata bagi kualitas ibadah. Puasa mengajarkan pengendalian diri secara menyeluruh. Menahan lapar saja tidak cukup tanpa menjaga lisan.

Ketika seseorang sibuk menggunjing, fokus ibadah akan terganggu. Pikiran dipenuhi prasangka, emosi mudah tersulut, dan ketenangan batin perlahan menghilang. Kondisi ini membuat puasa kehilangan tujuan spiritualnya.

Ghibah sering terjadi dalam percakapan ringan. Obrolan keluarga, pertemanan, hingga diskusi di media sosial rawan memicu gunjingan. Tanpa kontrol, kebiasaan ini menjadi rutinitas harian yang sulit dihentikan.

Islam menekankan pentingnya menjaga kehormatan sesama. Setiap individu memiliki hak untuk tidak direndahkan. Menjaga lisan berarti menjaga martabat orang lain sekaligus melindungi diri sendiri.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: kemenag.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X