Minggu, 19 Juli 2026

Mengenal KH Adlan Aly, Ulama Hafiz Qur'an dan Pendiri Pesantren Putri Pertama di Cukir Jombang

Photo Author
Hari Prasetia, Sketsa Nusantara
- Jumat, 23 Januari 2026 | 21:30 WIB
KH Adlan Aly, Pendiri Pesantren Putri Walisongo Cukir dan Mursyid Tarekat yang karismatik. (tebuireng.online)
KH Adlan Aly, Pendiri Pesantren Putri Walisongo Cukir dan Mursyid Tarekat yang karismatik. (tebuireng.online)

SketsaNusantara.id – Di tengah hiruk-pikuk Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, nama KH Adlan Aly terpatri abadi sebagai sosok ulama yang tidak hanya alim, tetapi juga visioner.

Lahir di Maskumambang, Gresik, pada tahun 1900, Kyai Adlan tumbuh menjadi figur penting dalam sejarah pendidikan Islam di Jombang, khususnya di kawasan Cukir yang letaknya tak jauh dari Pesantren Tebuireng.

Dilansir SketsaNusantara.id dari dalam skripsi Karamah dalam Dakwah (UIN Walisongo, 2019), Kyai Adlan dikenal sebagai santri kesayangan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kecintaan ini bukan tanpa alasan; Kiai Adlan adalah sosok hafiz (penghafal) Al-Qur'an yang tekun.

Baca Juga: Perkuat Ajaran Aswaja, Pengurus Ranting NU di Jombang Rutin Gelar Lailatul Ijtima'

Salah satu warisan terbesar Kyai Adlan adalah kepeduliannya terhadap pendidikan perempuan. Pada masa awal kemerdekaan, anak-anak perempuan di Desa Cukir yang tamat Madrasah Ibtidaiyah kesulitan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena ketiadaan biaya dan jarak sekolah yang jauh.

Melihat kondisi ini, Kyai Adlan mengambil langkah besar. Pada tahun 1951, beliau menginisiasi berdirinya Madrasah Mu’allimat. Tak hanya itu, beliau juga merelakan tanah dan rumahnya untuk dijadikan asrama bagi siswi dari luar daerah. Inilah cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir yang kini memiliki ribuan santri.

Selain sebagai pendidik, Kyai Adlan adalah oase penyejuk di tengah panasnya suhu politik kala itu. Ketika terjadi polarisasi tajam antara partai politik saat itu, banyak masyarakat yang bingung mencari pegangan spiritual.

Baca Juga: Apa yang Dilakukan Gus Baha Menjelang Ramadhan? Kerjakan Saja Ibadah ini di Rumah

Kyai Adlan kemudian mendirikan Jam’iyyah Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Cukir pada tahun 1978. Langkah ini diambil untuk menyelamatkan umat agar tetap bisa berdzikir dan beribadah dengan tenang tanpa terseret arus konflik politik praktis. Hingga kini, pengajian rutin tarekat ini masih lestari setiap hari Senin.

Di mata masyarakat dan santrinya, Kyai Adlan dikenal sebagai sosok yang linuwih. Beliau memiliki kebiasaan unik namun inspiratif. Salah satunya adalah kedermawanannya yang luar biasa.

Dikisahkan oleh para saksi sejarah, Kyai Adlan sering membantu tetangga yang kesulitan biaya persalinan atau ongkos haji. Uniknya, uang yang beliau ambil begitu saja dari ikat pinggangnya (sabuk) selalu pas jumlahnya dengan kebutuhan orang tersebut, tidak kurang dan tidak lebih.

Baca Juga: Gus Baha Beberkan Nasihat Menyambut Ramadhan: 'Di Antara Ijazah Mbah Maimoen Zubair, Guru Kami'

Lebih dari itu, kesabaran beliau dalam mendidik santri menjadi teladan yang sulit dicari tandingannya. Beliau dikenal tidak pernah memarahi santri yang setoran hafalan Al-Qur'an, melainkan membimbingnya dengan penuh kelembutan hingga santri tersebut lancar.

Kyai Adlan Aly wafat pada 6 Oktober 1990, namun jejak perjuangannya dalam memuliakan Al-Qur'an, mendidik kaum perempuan, dan menenangkan umat lewat jalan dzikir terus hidup dan menghidupi masyarakat Jombang hingga hari ini.***

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: tebuireng.online

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X