Kamis, 4 Juni 2026

Apa yang Dilakukan Gus Baha Menjelang Ramadhan? Kerjakan Saja Ibadah ini di Rumah

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 22 Januari 2026 | 05:00 WIB
Gus Baha memberikan nasihat sebelum datangnya Ramadhan. (Instagram/kyaigusbaha)
Gus Baha memberikan nasihat sebelum datangnya Ramadhan. (Instagram/kyaigusbaha)

SketsaNusantara.id - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, perhatian publik kembali tertuju pada aktivitas para ulama. Salah satunya adalah Gus Baha. Ceramah dan penjelasannya kerap menjadi rujukan masyarakat luas.

Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai bulan ibadah personal. Di lingkungan pesantren, Ramadhan juga menjadi momentum penguatan tradisi keilmuan. Proses belajar kitab tetap berjalan intensif.

Gus Baha menjelaskan bahwa aktivitasnya menjelang Ramadhan tidak berbeda jauh dari hari-hari biasa. Fokus utamanya tetap pada kegiatan mengaji. Aktivitas tersebut dilakukan di lingkungan rumah.

Baca Juga: Gus Baha Beberkan Nasihat Menyambut Ramadhan: 'Di Antara Ijazah Mbah Maimoen Zubair, Guru Kami'

“Kesibukan saya jelang Ramadhan standar saja, mempersiapkan mengaji, lebih banyak mengajinya. Biasanya orang datang ke rumah untuk mengaji, Ramadhan saya di rumah,” jelas Gus Baha, dikutip dari video Youtube Najwa Shihab.

Tradisi mengaji menjadi bagian penting dalam menyambut Ramadhan. Di pesantren, aktivitas pengajaran kitab dilakukan secara terjadwal. Kegiatan ini berlangsung setelah shalat fardhu.

Menurut Gus Baha, tradisi tersebut sudah lama berlangsung. Pada hari biasa, satu kiai mengajar beberapa kitab. Namun saat Ramadhan, intensitasnya meningkat.

Baca Juga: Jangan Hanya untuk Eksis di Medsos! Begini 5 Tips Menyambut Ramadhan Menurut Buya Yahya

“Kalau tradisi di kami, di pesantren, misalnya satu kiai mengajar 2-3 kitab setelah shalat fardhu. Bisanya kalau Ramadhan ini full. Karena ini untuk melengkapi orang Indonesia dapat berkahnya Ramadhan,” lanjutnya.

Pembacaan kitab tidak hanya ditujukan bagi santri. Masyarakat umum juga dilibatkan.

Tujuannya agar pemahaman tentang puasa tidak berhenti pada aspek formal.

Kitab-kitab klasik menjelaskan niat dan cara pandang orang terdahulu. Penjelasan tersebut membantu memahami makna puasa secara menyeluruh. Tradisi ini terus dijaga di pesantren.

Gus Baha juga menyinggung pentingnya mengikuti jejak ulama terdahulu. Hal ini berkaitan dengan pemahaman tentang jalan lurus.

Konsep tersebut dijelaskan dalam ayat Al-Fatihah.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Youtube Najwa Shihab

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X