“Sebelumnya buruh tani semua. Setelah ada pelatihan, hampir semuanya jadi pengrajin. Alhamdulillah, usaha ini bertahan dan berkembang sampai sekarang,” tambah Ahmadi.
Kini, Dawuhan Mangli bukan hanya dikenal sebagai desa pengrajin, tetapi juga sebagai pusat industri sangkar burung perkutut yang memiliki pelanggan dari berbagai daerah.
Keunikan dan kualitas sangkar buatan mereka membuatnya diminati oleh penghobi burung di seluruh Indonesia.
Dengan sejarah panjang dan semangat warganya, Dawuhan Mangli terus membuktikan bahwa warisan budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi yang menjanjikan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini