Minggu, 19 Juli 2026

Perjalanan Sejarah Kerajinan Sangkar Burung di Desa Dawuhan Mangli Jember, Mampu Bertahan Sejak Tahun 1955

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 15 Februari 2025 | 19:48 WIB
Gapura desa Dawuhan Mangli Jember dengan lambang sangkar burung perkutut  (SketsaNusantara.id/ Sigit Gita Pamuji)
Gapura desa Dawuhan Mangli Jember dengan lambang sangkar burung perkutut (SketsaNusantara.id/ Sigit Gita Pamuji)

SketsaNusantara.id – Desa Dawuhan Mangli, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, bukan sekadar desa biasa.

Sejak tahun 1955, desa ini telah menjadi pusat kerajinan sangkar burung perkutut yang kini dikenal luas hingga ke berbagai daerah. Kerajinan ini tidak hanya menjadi mata pencaharian utama warganya, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang terus dilestarikan.

Tohari (42), salah satu pengrajin di Dusun Krajan, mengungkapkan bahwa keterampilan membuat sangkar burung telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Dari Warisan Nenek Moyang di Sudut Jember hingga ke Pasar Nasional, Inilah Perjalanan Panjang Kerajinan Sangkar Burung Perkutut di Dawuhan Mangli

“Kalau di desa ini, kerajinan sangkar burung adalah warisan dari nenek moyang kami. Kami hanya meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh kakek buyut kami,” ujarnya pada Tim SketsaNusantara.id pada 15 Februari 2025

Sangkar burung yang dibuat di desa ini memiliki ciri khas tersendiri. Menggunakan bahan baku bambu atau rotan, sangkar ini dilengkapi dengan bagian bawah yang dapat dilepas serta laci penampung kotoran.

Selain itu, tersedia tempat makan dan minum yang dirancang agar mudah diakses dan dibersihkan.

Baca Juga: Jenazah Bocah Korban Penganiayaan di Jember Sudah Dimakamkan, Ibu Korban Ingin Pelaku Dihukum Mati

Ahmadi (82), sesepuh desa sekaligus mantan sekretaris desa yang menjabat sejak 1983, menceritakan bahwa kerajinan sangkar burung di Dawuhan Mangli pertama kali dirintis oleh dua orang, almarhum Santena dan Juma’i.

Sejak tahun 1955, mereka mulai membuat sangkar burung secara mandiri sebelum akhirnya banyak warga lain yang mengikuti jejak mereka.

Namun, perkembangan besar terjadi pada tahun 1976 ketika almarhum Kepala Desa Suroto mengadakan pelatihan pembuatan sangkar burung bagi warga.

Baca Juga: Rumah Ayah Tiri Penganiaya Bocah di Jember 2 Kali Digeruduk Massa, Pelaku Diamankan ke Polsek

“Pelatihan itu digelar di balai desa dan mendatangkan tenaga ahli dari perindustrian. Selama 17 hari, masyarakat diajarkan cara membuat sangkar burung dengan teknik yang lebih baik,” kenang Ahmadi.

Sebelum adanya pelatihan ini, mayoritas warga Dawuhan Mangli berprofesi sebagai buruh tani. Namun, setelah mendapatkan keterampilan baru, hampir seluruh penduduk beralih menjadi pengrajin sangkar burung.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X