SketsaNusantara.id - Efisiensi anggaran sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto tampaknya juga akan berdampak pada pemangkasan dana beasiwa dan bantuan Kartu Indonesia Pintar atau KIP Kuliah di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek).
Hal ini diketahui dari postingan akademisi yang mengunggah pembahasan dalam Rapat Kerja bersama DPR RI mengenai efisiensi anggaran di Kemendiktisaintek.
Ratusan ribu mahasiswa bahkan terancam putus kuliah karena adanya pemangkasan dana untuk beasiswa dan bantuan KIP-Kuliah imbas efisiensi anggaran.
Dalam salah satu slide yang diuggah akun X @ardisatriawan menunjukkan bahwa 1.040.192 mahasiswa (on going maupun mahasiswa baru) akan terkena dampak efisiensi.
Tercatat, dana KIP sebanyak 663.821 dari 844.174 mahasiswa yang kini sedang menjalani masa perkuliahan tidak dapat dibayarkan pada tahun 2025 sehingga akan terancam putus kuliah.
Selain itu, tidak ada penerimaan mahasiswa baru penerima KIP-Kuliah yang meski telah masuk jumlah pendaftar sebanyak 21.131 orang sejak dibuka pada 4 Februari 2025 lalu.
Dengan demikian, pemerintah dianggap gagal memutus rantai kemiskinan karena tak ada penerimaan mahasiswa baru yang menurunkan akses penduduk dari kelompol ekonomi rendah melanjutkan ke pendidikan tinggi.
Dana Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) juga mengalami pemangkasan sebesar 10% yang mengakibatkan 12.345 mahasiswa ikut terdampak.
Mirisnya, 33 mahasiswa penerima BPI yang mengenyam pendidikan di Luar Negeri termasuk Dosen yang sedang menyelesaikan studi S3, berpotensi terlantar dan tak bisa menyelesaikan pendidikannya karena terdampak efisiensi anggaran.
Postingan ini sontak menyita perhatian publik dan ramai jadi perbincangan netizen hingga KIPK jadi trending topic di media sosial X (dulu Twitter).
Protes keras dilontarkan warganet di media sosial. Pasalnya, biaya pendidikan tak masuk prioritas dan mengalami pemangkasan yang cukup signifikan hingga jutaan mahasiswa Indonesia terancam tak bisa melanjutkan kuliah.