Falsafah Jawa ini mengingatkan setiap individu untuk tidak bertindak sewenang-wenang dan melampaui wewenang yang dimilikinya.
Rupanya nasehat Jokowi terhadap Gibran saat ini terkait tugasnya dalam mendampingi Presiden Prabowo Subianto sebab prinsip-prinsip ini memang harus diterapkan oleh beberapa kalangan, termasuk seorang wakil presiden seperti Gibran.
Jokowi sendiri selama ini memang dikenal sebagai orang jawa yanag memegang teguh falsafah jawa dimana falsafah "ojo kemajon" salah satu warisan budaya Jawa yang mengandung nilai-nilai luhur tentang keseimbangan dan harmoni dalam hidup.
Sedangkan dalam tulisan seorang alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Kasijanti Sastrodinomo, dikutip dari laman kompas.id, istilah jawa 'Kemajon' merupakan morfologi yang diturunkan dari verba 'maju'.
Namun ketika kata itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan jawa lalu diberi awalan dan akhiran (ke-,-an) maka artinya menjadi sangat berbeda jauh bahkan berlawanan.
Maju dalam bahasa Indonesia menjadi 'kemajuan', diartikan sebagai suatu gerak atau dorongan ke arah keadaan lebih berkembang, atau menuju ke depan.
Sedangkan Maju dalam bahasa Jawa oleh penutur Jawa disebut 'Kemajon', yang diartikan sebagai suatu keadaan berlebihan atau kebablasan dan terasosiasi dengan kata lancang.
Sehingga 'ojo kemajon' jika diartikan dalam istilah morfologi menjadi 'jangan berlebihan' atau 'jangan lancang', kata ini mengacu pada nasehat Jokowi bahwa wakil presiden itu tugasnya membantu, jika diminta oleh presiden.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini