news

Trump Bekukan Bantuan HIV: WHO dan Indonesia Siap Hadapi Krisis Kesehatan?

Sabtu, 1 Februari 2025 | 07:00 WIB
Ilustrasi, Indonesia terancam krisis kesehatan pasca Amerika Serikat berencana membekukan bantuan? (Freepik/master1305)

SketsaNusantara.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan keprihatinannya atas kebijakan terbaru Amerika Serikat.

Pasalnya, negeri Paman Sam itu akan menghentikan bantuan dana untuk penyediaan obat HIV di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Keputusan tersebut memicu kekhawatiran akan terganggunya program penanggulangan HIV, termasuk di Indonesia.

Baca Juga: Dinkes Jember Catat 600 Lebih Penderita Baru HIV AIDS di Tahun 2024

Kebijakan ini sejalan dengan langkah Presiden AS Donald Trump yang membekukan seluruh hibah, pinjaman, dan bantuan keuangan luar negeri selama 3 bulan ke depan.

Bahkan, Trump juga mengisyaratkan kemungkinan menarik AS dari WHO, padahal negara itu merupakan penyumbang terbesar dengan kontribusi mencapai seperlima dari anggaran tahunan WHO yang mencapai 6,8 miliar dolar AS.

Langkah AS ini berdampak luas bagi banyak negara yang bergantung pada bantuan medis, terutama untuk obat antiretroviral (ARV) yang dikonsumsi setiap hari oleh penderita HIV.

Baca Juga: Dari Musisi hingga Supermodel! 5 Tokoh Ternama Dunia ini Kehilangan Hidupnya karena HIV AIDS, Ada yang Menggelandang

WHO telah meminta pengecualian untuk program ini, namun belum ada kejelasan dari pemerintah AS.

Meskipun Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan AS untuk penyediaan obat ARV, kebijakan ini tetap membawa dampak serius.

Direktur eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC), Aditya Wardhana, menyebutkan bahwa sebagian besar program HIV di Indonesia masih bergantung pada dana donor asing, termasuk dari AS.

Aditya juga menyoroti dampak kebijakan Trump terhadap isu gender dalam program penanggulangan HIV di Indonesia.

"Dalam pidato inagurasi Trump, dia secara eksplisit mengatakan kebijakan AS hanya mengakui dua gender: laki-laki dan perempuan. Di Indonesia, program penanggulangan HIV sangat berkaitan dengan teman-teman transgender. Prevalensi HIV di kelompok transgender cukup tinggi," kata Aditya kepada awak media.

Selain HIV, penghentian bantuan AS juga mencakup obat-obatan untuk penyakit menular lain seperti tuberkulosis (TBC) dan malaria. Hal ini semakin memperburuk ancaman terhadap sistem kesehatan di negara-negara berkembang.

Halaman:

Tags

Terkini