Ditanya kiat khusus bisa produktif menulis, bapak dua putra ini mengaku biasa saja.
“Yang penting ada komitmen kuat menulis dan diwujudkan, tidak perlu banyak berangan-angan menulis ini dan itu,” ujarnya.
“Dan, harus ada target, setahun ini bisa menerbitkan berapa buku, berapa artikel jurnal dan berapa opini di media massa,” tandasnya.
Selain menulis, suami dari Nurul Yani ini dalam sepekan harus mengajar di lima lembaga. Di jenjang perguruan tinggi.
Dia mengajar di kampus STAI Darussalam Krempyang Nganjuk dan STIT Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang. Juga menjadi guru di Aliyah Seblak Diwek dan menjadi PNS di SMAN 1 Jombang. Termasuk mengaji di Pesantren Al-Choiriyah Seblak saat malam hari.
Meski demikian, di tengah kesibukan mengajar, dirinya meluangkan waktu untuk menulis.
“Apalagi jika ada isu terkait dunia pendidikan, tangan ini rasanya gatal jika tidak menulisnya,” ceritanya.
Saat ini dia juga bergabung dengan Literacy Center. Sebuah unit kerja yang fokus dalam menggerakkan tradisi literasi kaum muda di Jawa Timur.
Sejak 2022, bersama tim, dirinya sudah menggelar pelatihan kader literasi di seluruh Jawa Timur.
“Sudah 38 kabupaten/kota di Jawa Timur digelar di tujuh zona, mulai Metropolis, Matraman, Pantura, Tapal Kuda, Malang Raya, Kediri Raya dan Madura,” jelasnya.
Peserta yang diundang dari unsur dosen, guru, santri maupun organisasi kepemudaan.
“Biasanya kami bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk menggelar pelatihan ini,” imbuhnya.