Dia tidak menyangka bisa masuk babak berikutnya.
“Lalu dikirimi link oleh panitia untuk diisi detail dan spesifikasi karya-karya yang sudah diajukan,” kisahnya.
Selang beberapa hari sebelum pengumuman pemenang, dia mengakui ditelpon beberapa kali oleh panitia. Pihak panitia meminta dikirimi sampul dan identitas karya.
Baca Juga: Transformasi Digital BRI: Sukses Meraih 2 Penghargaan Bergengsi di DBA 2024
“Tujuannya memverifikasi dan kroscek calon pemenang, juga ditanya-tanya soal karya-karya yang sudah diajukan,” ceritanya.
Meski baru pertama kali mengikuti ajang ini, dirinya mengaku lancar saat menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Terutama terkait karya artikel di jurnal ilmiah yang terindeks Sinta.
“Kok sebanyak itu seorang guru bisa mempublikasikan, itu langka dan ternyata jadi nilai lebihnya, tidak sekedar banyak menerbitkan buku ber-ISBN saja,” ujarnya menirukan pertanyaan dari panitia.
Baca Juga: KPU Kabupaten Kediri Kawal dan Jaga Ketat Proses Tarik-Simpan Logistik Pilkada
Salah satu apresiasi lain, imbuhnya, banyak buku yang ditulis dan diberi kata pengantar guru besar. “Sudah ada tujuh buku saya yang diberi kata pengantar profesor,” ujarnya.
Di antaranya Pergulatan Ideologis Pendidikan Islam oleh Prof Masdar Hilmy dari Uinsa (2011), Dinamika Pendidikan Islam oleh Prof Masykuri Bakri dari Unisma (2016), Berguru Ke Sang Kiai oleh Prof Nur Akhid dari IAIN Kediri (2016) dan Sejarah Pendidikan Islam Nusantara oleh Prof MN Harisuddin dari UIN Jember (2021).
Karya lainnya, lanjut Mukani, buku Membaca Pendidikan Indonesia oleh Prof Masdar Hilmy dari Uinsa (2021), Kiai Gado-gado (2022) dan Nasionalisme Generasi Milenial (2024) oleh Prof Ngainun Naim dari UIN Tulungagung.
“Buku yang terbaru ini insya Allah bulan ini akan dibedah di kampus Universitas An-Nuqoyah Guluk-guluk Sumenep,” imbuhnya.
Sebanyak 32 judul buku yang ditulis mayoritas diterbitkan dengan sistem royalti. Kadang dirinya berkolaborasi dengan penulis muda untuk menulis buku.
“Yang penting kualitas tulisannya bagus, mudah untuk diterbitkan dengan sistem royalti,” ujarnya.