"Keamanan dengan sengaja membiarkan itu dugaannya begitu, sebab fungsi utamanya adalah mencegah," ujar Rocky Gerung.
Belum lagi adanya sebuah kabar petugas keamanan terlihat berpelukan dengan para petugas keamanan, hal ini juga diangkat oleh Rocky dalam perbincangannya.
Baca Juga: AJI Jember Serukan Jurnalis Patuhi Kode Etik dalam Pemberitaan Kekerasan Seksual
Dikutip SketsaNusantara.id dari akun Tiktok @sharpandshark, terlihat petugas berpelukan dengan para preman usai pembubaran terjadi.
Rocky menduga adanya relasi antara petugas keamanan dengan preman.
"Di dalam banyak kamera itu terlihat bahkan berpelukan itu jadi terbaca sebetulnya satu jalinan atau semacam relasi antara pelaku dan petugas," duga Rocky Gerung.
Berdasarkan hal tersebut membuat timbul sebuah pertanyaan, di manakah perlindungan terhadap warga negara ketika ingin menyuarakan pendapat.
Menurut Rocky, peristiwa yang terjadi di Hotel Kemang tersebut sebetulnya bukan hanya soal premanisme dan pembubaran, tetapi prinsip bahwa semua hak untuk berpendapat wajib dilindungi oleh negera.
"Kalo aparat keamanan tidak melindungi artinya dia melanggar prinsip yang merupakan tugas dia," pungkas Rocky.
"Dasar utama dalam demokrasi adalah "civitas liberties" kebebasan sipil, jadi tidak boleh sekali lagi ada perintah dari manapun yang memungkinkan kebebasan sipil ini dibatalkan," kata Rocky.
Terakhir Rocky Gerung ingin memantau proses dari pihak kepolisian atas peristiwa yang menyebabkan Diskusi FTA dibubarkan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!