SketsaNusantara.id - Tak hanya ramai di Indonesia, sejumlah media asing di beberapa negara lainnya turut menyoroti aksi demonstrasi Darurat Demokrasi Indonesia yang dilakukan civitas akademika, masyarakat dan para aktivis pada hari Kamis, 22 Agustus 2024.
Media asing dari berbagai negara ikut melaporkan aksi Demo Darurat Demokrasi Indonesia sebagai bentuk kemarahan dan kekecewaan masyarakat pada pemerintah Indonesia.
Massa berkumpul ke Senayan dan dari beberapa wilayah lainnya untuk menolak pengesahan Revisi UU Pilkada usai Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menganulir Putusan MK (Mahkamah Konstitusi).
Media asing berbasis Amerika, Reuters singgung soal politik dinasti dan menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang akan lengser dari jabatannya berusaha untuk menganulir putusan MK sehingga membuka peluang lebih besar bagi Kaesang untuk maju pada Pilkada 2024 mendatang.
"Badan legislatif DPR, yang didominasi oleh pendukung Presiden Joko Widodo berusaha untuk memberikan suara dan membatalkan perubahan Undang-Undang Pemilu yang dibuat oleh Mahkamah konstitusi (MK)," tulis Reuters.
"Revisi Undang-Undang yang disahkan DPR itu akan membuka jalan bagi putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, 29 tahun, untuk mencalonkan diri dalam pemilihan daerah di Jawa Tengah November ini dengan mengubah aturan mengenai persyaratan usia," imbuhnya.
Selain itu, AFP yang berbasis di Paris, Prancis menyoroti keributan yang terjadi saat Demo Darurat Indonesia berlangsung dan menyinggung soal Jokowi yang melakukan nepotisme sejak Pemilu 2024.
"Ribuan orang berkumpul di luar gedung DPR untuk memprotes keputusan DPR merevisi Undang-Undang, sambil membawa poster-poster yang menuduh Jokowi melakukan nepotisme dan menghancurkan demokrasi, bahkan ada alat pemenggal kepala palsu yang bergambar wajah sang Presiden," tulis AFP.
"Tuntutan mereka termasuk menolak RUU Pilkada, menghormati putusan Mahkamah Konstitusi, dan menolak dinasti politik. Amarah masyarakat makin tak terbendung, saat situasi mulai chaos, Polisi Indonesia menembakkan gas air mata serta meriam air untuk membubarkan ribuan pengunjuk rasa," pungkasnya.
Sementara itu, melalui media sosial Twitter, warga dunia juga ikut menyoroti kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian.
Salah seorang netizen mengunggah video kekerasan saat polisi berusaha menangkap dan dengan brutal memukul demonstran yang berusaha diredam warga sekitar.
Artikel Terkait
Tegas! KPU Angkat Suara Terkait Polemik Kebijakan Politik DPR RI Soal Pengesahan Revisi UU Pilkada
Profil Ketua BEM UI, Verrel Uziel yang Siap Demo hingga Revisi UU Pilkada Dibatalkan, Fakultas hingga Akun IGĀ
Mengenal Sosok Marie Antoinette, yang Mendadak Trending Bersamaan dengan Viralnya Bau Ketek Erina Gudono
Koalisi Masyarakat Sipil dan AJI Jayapura Gelar Aksi Bisu di Sorong, Protes Sunyi Melawan Dinasti Politik Jokowi
Parah! Ratusan Orang Ditahan Polisi Usai Ikut Demo Kawal Putusan MK, YLBHI Sebut Ada yang Minta Tebusan Jutaan Rupiah Jika Ingin Bebas
Usung Konsep Melawan dengan Gembira dan Berjuang Lewat Seni Kolektif, Ini Tuntutan Aliansi Kamar Kanan Jember Sikapi Kemunduran Demokrasi di Indonesia
Mengenal Sosok Fransisca Fanggidaej Nenek Reza Rahadian, Tokoh Jurnalis yang Pernah Terseret Peristiwa G30S PKI