SketsaNusantara.id - Tepat 20 tahun Munir Said Thalib dibunuh secara keji dengan racun senyawa arsenik saat di pesawat menuju Amsterdam, Belanda.
Kematian Munir menyisakan banyak tanda tanya yang sampai hari ini masih diselubungi tabir misteri.
Kasusnya tidak berlanjut sejak akhir 2008, setelah sebelumnya ditangani oleh Tim Pencari Fakta (TPF), Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan.
Tahun 2004, Pemerintah membentuk TPF dengan hasil sejumlah nama yang mesti ditelusuri dan diinvestigasi peran mereka.
Namun, tahun 2016 dokumen hasil TPF dinyatakan hilang oleh Kementerian Sekretariat Negara.
Komitmen Pemerintah pun dipertanyakan oleh Amnesty International Indonesia.
Baca Juga: Kapan Wiji Thukul Hilang? Di Sini Lokasi Terakhir Aktivis Orde Baru Sekaligus Penulis Puisi 'Lawan'
Usman Hamid selaku Direktur Amnesty International menilai bahwa Negara masih enggan mengungkap fakta di balik kematian Munir.
“Seandainya pun Komnas HAM berhasil menuntaskan penyelidikan, hasilnya masih bergantung dari kemauan politik negara, ujar Usman, dikutip SketsaNusantara.id dari Amnesty.id.
Usman juga menyoroti hilangnya dokumen TPF sebagai hal yang sulit diterima nalar.
“Peristiwa hilangnya dokumen TPF itu saja menandakan rendahnya kemauan politik negara untuk membuka kembali kasus Munir. Kejadian ini sungguh tidak dapat dipercaya dan sulit diterima oleh nalar,” ujar Usman.
Untuk mengenang Munir dan perjuangannya menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, sudah banyak seniman khususnya musisi yang menciptakan karya terbaik mereka.