Selanjutnya, pihak sekolah Petra menjelaskan bawasannya sekolah telah membayar hingga di nominal Rp32 Juta namun tidak bersedia membayar di atas itu.
Setelah merasa keberatan dan tidak membayar, dikatakan adanya ancaman dan intimidasi hingga aksi block jalan yang dilakukan oleh warga Manyar sebagai bentuk shock therapy kepada Petra.
Selain itu, Pihak sekolah menyampaikan laporan pertanggungjawaban yang tidak transparans merupakan salah satu fakto membuat sekolah tidak setuju untuk membayar iuran sebesar Rp35 Juta.
Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji mengatakan bahwa akar permasalah atau konflik warga Manyar dengan Petra adalah tidak sepakatnya besar nominal iuran keamanan.
Namun, buntut masalah tersebut menyebabkan persoalan lain seperti kemacetan panjang di Jalan Raya Manyar Tirtosari.
"Jadi gini, ini kan tidak ada kecocok terhadap kenaikan iuran, intinya cuma itu tok, ujar Armuji
"Tak kasih tahu, ini masalah iuran bukan masalah warga, masalah iuran yang tidak cocok," tegas Armuji
Secara tegas juga Wakil Wali Kota Armuji mengatakan Jalan Raya Manyar Tirtosari merupakan jalan umum bukan jalan warga, jadi tidak diperbolehkan bagi warga mengklaim sebagai jalannya sendiri hingga menutup akses jalan tersebut.
"Kalau macet bisa diatur, ini jalan-jalan umum bukan jalan warga, yang tidak cocok adalah iuran bukan masalah kemacetan. kalau iurannya cocok warga ga ngomong kemacetan, intinya itu iurannya belum cocok," ucap Armuji
Menurut kabar beredar, bahwa pihak sekolah Petra akak membawa ke jalur hukum jika warga terus memaksa pembayaran iuran yang dinaikkan menjadi Rp35 Juta.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!