3. Gerhana Matahari Total (12 Agustus 2026)
Masih pada tanggal yang sama, dunia akan menyaksikan Gerhana Matahari Total. Fenomena ini menjadi salah satu momen yang paling banyak dibicarakan publik, yang terjadi ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari.
Berdasarkan peta jalur gerhana dari NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA), jalur totalitas Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 hanya melintasi Greenland, Islandia, Spanyol bagian utara, sebagian kecil Portugal, hingga Rusia utara.
Sayangnya fenomena ini tidak bisa diamati dari Indonesia karena Indonesia berada jauh di luar lintasan bayangan Bulan sehingga masyarakat tidak dapat menyaksikan gerhana ini, baik dalam fase total maupun sebagian.
4. Puncak Hujan Meteor Perseid (12–13 Agustus 2026)
Fenomena astronomi lainnya yang paling dinantikan lainnya adalah puncak hujan meteor Perseid yabg diperkirakan terjadi pada malam hari tanggal 12 hingga 13 Agustus 2026. Dalam kondisi ideal, hujan meteor ini dapat menghasilkan hingga sekitar 60 meteor per jam.
Hujan meteor perseid dapat diamati dari Indonesia, meski tidak optimal. Perseid paling baik diamati dari wilayah belahan Bumi utara karena titik radiannya berada di rasi Perseus.
Dari Indonesia, meteor tetap berpeluang terlihat, terutama setelah tengah malam hingga menjelang Matahari terbit, meski jumlahnya diperkirakan lebih sedikit dibandingkan di negara-negara lain yang berada di lintang utara.
5. Bulan Purnama Sturgeon dan Gerhana Bulan Sebagian (28 Agustus 2026)
Menjelang akhir bulan, tepatnya 28 Agustus 2026, langit kembali dihiasi Bulan Purnama Sturgeon yang bertepatan dengan terjadinya Gerhana Bulan Sebagian.
Fenomena ini terjadi ketika sebagian piringan Bulan memasuki bayangan inti Bumi sehingga tampak seperti "tergigit" atau gelap sebagian.
Tidak semua fase gerhana bulan dapat terlihat dari Indonesia. Visibilitasnya bergantung pada waktu terjadinya gerhana dan posisi Bulan saat itu.
Sebagian wilayah Indonesia berpotensi hanya dapat menyaksikan sebagian fase atau bahkan tidak melihatnya sama sekali.